Senin, 27 April 2026

Ini Alasan Mengapa Jepang Lebih Berhak atas Pulau Senkaku

Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda Senin kemarin di KTT ASEAN jelas-jelas dan resmi untuk ke sekian kali

Tayang:
Editor: Widiyabuana Slay

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo, Jepang

TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda, Selasa (20/11/2012) sore dalam pertemuan dengan Presiden Obama di KTT ASEAN jelas-jelas dan resmi untuk ke sekian kali mengajak China ke mahkamah internasional guna memecahkan permasalahan sengketa pulau Senkaku milik Jepang yang oleh China dianggap miliknya. Obama pun menyambut dengan baik usulan tersebut. Meskipun demikian untuk kesekian kalinya China terus menerus menolak ajakan tersebut dan menganggap tidak perlu ke mahkamah internasional karena pulau itu jelas-jelas milik China dan direbut oleh Jepang.

Itulah sebabnya Pertengahan September lalu  muncul unjuk rasa anti-Jepang di China, terus menerus lebih dari 10 hari. Sedikitnya 125.000 partisipan unjuk rasa bahkan menjadi kerusuhan anti Jepang terbesar, turun ke jalan umum di lebih 100 kota di China. Mereka merusak berbagai tempat serta barang yang berbau Jepang. Saking takutnya Uniqlo, peritel fashion terbesar Jepang, menuliskan pada kaca depannya, “pulau Senkaku milik China”, agar toko Jepang itu tidak dirusak para pengunjuk rasa.

Kerusuhan terbesar anti Jepang di China itu, mengakibatkan beberapa orang Jepang cedera bahkan diperkirakan ada yang meninggal setelah dipukuli para perusuh tersebut. Sebuah Konsulat Jepang diserbu masuk para perusuh dan dirusak. PM Jepang Yoshihiko Noda pun saat itu membentuk tim khusus darurat untuk memonitor keamanan warga Jepang di Cina.

Di Shibuya Tokyo,  Duta Besar Jepang untuk China, Shinichi Nishimiya, yang baru dilantik 11 September lalu, dua hari kemudian, 13 September langsung jatuh sakit dan 16 September meninggal dunia. Komentar pemerintah Jepang, “Tidak ada hubungannya dengan kerusuhan anti Jepang di China.” Tetapi rumor yang beredar di Jepang, dubes tersebut dibunuh, entah bagaimana caranya, oleh orang China yang ada di Jepang, karena dubes baru itu diketahui tidak pro-China. Sedangkan Dubes Jepang sebelumnya sangatlah pro-China.

Begitu parah dan ribut sekali hubungan kedua negara ini sejak minggu kedua September. Bahkan 18 September (Insiden Mukden 1931), pada peringatan penjajahan Jepang atas China (masuk lewat Machuria), unjuk rasa menjadi hampir 200.000 orang di China. Bahkan sekitar 100 kapal China mendekati kepulauan Senkaku, dicegat ketat oleh puluhan kapal patroli Jepang, “Kita perlu meningkatkan kekuatan pasukan bela diri Jepang kalau sudah melihat ketegangan ini,” ungkap mantan Seretaris Kabinet Machimura saat kampanye di Tokyo 18 September lalu.

Survei TBS TV (Tokyo) yang dilakukan di China belum lama ini menghasilan jawaban bahwa sekitar 55 persen masyarakat China yakin siap dan akan berperang dengan Jepang karena marah sekali. Sedangkan masyarakat Jepang hanya sekitar 5 persen yang menyatakan adanya kemungkinan perang dengan China. Jadi orang Jepang justru melihat China sebagai rasa “kasihan” dan “cool” tidak ada rasa marah apalagi ingin perang terhadap China. Perasaan Heiwa, artinya damai.

Mengapa kerusuhan anti Jepang meledak di China? Selasa 11 September pemerintah Jepang menandatangani kesepakatan dengan pemilik 3 pulau Senkaku, keluarga Kurihara, membeli pulau itu dengan harga 2,05 miliar yen.

“Pembelian pulau itu untuk memastikan keamanan navigasi perairan di sekitarnya dan akan mengelola dengan stabil serta aman bagi sekelilingnya,” komentar Menlu Jepang Koichiro Gemba
Kepulauan Senkaku terdiri dari lima pulau. Dua pulau telah dimiliki pemerintah Jepang yaitu pulau  Diaoyu dan pulau Tiaoyutai. Sedangkan 3 pulau lain dimiliki perorangan Jepang, Mr. Kurihara, yaitu pulau Uotsuri Usland, pulau Kitakojima dan pulau  Minamikojima, yang disewanya bertahun-tahun.

Sejak beberapa tahun belakangan ini kepulauan Senkaku memanas kembali, diperebutkan oleh China, mengaku milik mereka, terutama setelah terungkap ada sumber daya alam yang sangat berharga.

"Kegiatan unjuk rasa anti Jepang di China yang tidak masuk akal sekarang ini dipastikan akan meningkatkan ketegangan dan krisis kedua negara seperti yang diharapkan mungkin oleh kelompok kanan Jepang,” ungkap Liu Jiangyong, Wakil Dekan Institute of Modern International Relations di Universitas Tsinghua Beijing.

Sejarah Pulau Senkaku

Coba kita lihat sejarah sejenak. Pulau Senkaku semula adalah pulau tak bertuan sampai dengan akhir tahun 1894, tak ada penghuninya dan semua orang tak ada yang melirik, tak ada yang tertarik kepada pulau tersebut. Lalu Jepang menganggap sebagai pulau miliknya.

Pada jaman restorasi Meiji tepatnya tahun 1885, pemerintah Jepang melakukan survei yang hasilnya, pulau tersebut tidak ada pemiliknya. Saat itu, Menteri Dalam Negeri Jepang, Aritomo Yamagata, mengajukan permintaan resmi agar pulau dimasukkan ke Jepang.

Tanggal 14 Januari 1895, Jepang mengumumkan secara resmi memiliki pulau tersebut pada saat perang Cina-Jepang dan kemenangan pada tentara Jepang atas China. Hal itu terjadi tiga bulan sebelum penandatanganan Pakta Shimonoseki, pakta perdamaian penghentian perang dan pengakuan Cina kalah terhadap Jepang. Lalu Jepang membuat tanda di Kubajima (pulau Kuba) dan Uotsurijima (pulau Uotsuri) sebagai tanda pulau tersebut milik Jepang. Keputusan politik itu baru terungkap tahun 1950.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved