Senin, 27 April 2026

Ini Alasan Mengapa Jepang Lebih Berhak atas Pulau Senkaku

Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda Senin kemarin di KTT ASEAN jelas-jelas dan resmi untuk ke sekian kali

Tayang:
Editor: Widiyabuana Slay

Langsung saja masyarakat China tersulut api semakin panas, serentak turun ke jalan setelah membaca dari internet. Pemerintah China kaget, terbukti tidak siap menerjunkan polisi dan pihak keamanannya pada waktunya untuk mencegah gerakan anti Jepang yang meluas cepat, bahkan menjadi huru-hara, perusakan, dan kemungkinan juga terjadi korban pembunuhan oleh perusuh, seperti kejadian di Jakarta Mei 1998 lalu.

Kerusuhan ini tidak bisa dianggap ringan. Bukan tidak mungkin emosi anti-Jepang menyebar ke berbagai negara termasuk Indonesia. Apalagi belum lama, bulan Agustus lalu terjadi unjuk rasa di depan kedutaan Jepang di Jakarta, akibat masalah PHK dan Serikat Buruh di sebuah perusahaan Jepang yang ada di Semarang. Kita berdoa saja agar perasaan anti Jepang tidak masuk ke Indonesia seperti kejadian Malari 1972.

Guna memecahkan persoalan perasaan anti-Jepang ini sebenarnya perlu sensitivitas kedua pihak. Keduanya perlu melakukan diplomasi yang lebih baik lagi. Pihak China pun perlu bersabar, menahan diri berkomentar. Bukan malah memanaskan rakyatnya.

Sedangkan pihak Jepang harus lebih agresif lagi mendekati China, mencari solusi bersama masalah ini, karena berbagai “pipa” kedua negara selama ini cukup banyak, pasti bisa di solusikan berama.

Upaya terakhir tentu kerelaan kedua negara mau membawa masalah kepulauan Senkaku ke Mahkamah Internasional (MI). Pihak Jepang bersedia membawa ke MI, tetapi pihak China berkeberatan karena yakin penuh kepulauan Senkaku milik China.

Tanpa upaya jalan tengah MI rasanya masalah ini sampai kapan pun tak akan selesai. Kerawanan dan ketidaknyamanan akan berdampak ke negara sekitar. Mungkin perlu masa cooling down bersama agar semua pihak menjauhkan diri dari kegiatan yang dapat memancing kemarahan kedua pihak. Bukan malah emosi balas dendam seperti dilakukan dua laki-laki Jepang yang sengaja mendarat di pulau Senkaku dan segera ditangkap pihak kepolisian laut Jepang.

Bisa dibayangkan, apabila hubungan kedua negara semakin kacau, 22.000 perusahaan Jepang di China akan kabur, 9,2 miliar pekerja China di perusahaan Jepang tak bekerja lagi, dan sedikitnya 5,9 miliar USD pajak perusahaan Jepang di China tak dapat masuk kas negara China lagi. Tidak ada yang untung dari ketegangan ini. Sentimen anti Jepang atau anti China berkembang di banyak negara.

Sementara itu Pemimpin Redaksi suratkabar Keizai Shinpo, Masatomo Takahashi di Tokyo khusus kepada Tribunnews.com mengatakan bahwa pulau itu jelas milik Jepang.

“Dulu pulau ini tidak diketahui dan tidak ada yang melirik sama sekali. Warga Jepang sudah ada di sana mengelola berbagai kegiatan usaha. Lalu saat diketahui ada sumber alam yang menarik belakangan ini, China mulai mengklaim hak kepemilikan,” kata Takahashi.

China sebenarnya harus berterima kasih kepada Jepang dengan bantuan ekonomi di masa lalu sehingga ekonomi Cina jadi hidup seperti sekarang, “Mudah-mudahan saja China bersedia menyelesaikan di mahkamah internasional sehingga cepat berakhir masalah ini.”

Pengusaha Jepang lain, CEO Trend Japan Co.Ltd, Ryuji Kitagawa juga berpendapat sama bahwa Senkaku adalah sepenuhnya milik Jepang, “Saya bingung masalah Senkaku ini ini malah jadi meluas ke mana-mana, padahal jelas milik Jepang,” katanya.

Menurutnya, China harus menghormati hukum internasional seperti perdagangan bebas yang telah diatur internasional, permasalahan dua negara baiknya diselesaikan di mahkamah internasional, bukan dengan ngotot maunya sendiri menyatakan miliknya. Biar lembaga internasional yang memutuskan.

”China meremehkan kekuatan teknologi Jepang. Embargo yang dilakukan terhadap Jepang menghentikan pengiriman bahan baku tertentu, tidak berpengaruh besar. Bahkan kini dengan kemajuan teknologi Jepang menemukan sendiri bahan dasar pengganti yang lain. Lalu kapan-kapal Cina menabrakkan dirinya ke kapal petugas penjaga laut Jepang di sekitar Senkaku. Semua itu jelas memalukan sekali di mata internasional,” tekannya lagi.

Memang permasalahan dua negara ini sebenarnya mudah diselesaikan, tapi upaya China selalu menolak maju ke mahkamah internasional membuat masalah ini tak pernah selesai.

Mudah-mudahan Indonesia dapat berperan menjadi penengah kedua negara yang sedang bertikai tajam ini.

INTERNASIONAL POPULER

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved