Jumat, 17 April 2026

Jaringan Kelompok ISIS

Ini yang Bikin Menlu Australia Bingung, Mengapa Makin Banyak Anak Muda Negerinya Gabung ISIS?

Sejumlah besar perempuan Australia dikhawatirkan dalam perjalanan menuju Irak dan Suriah untuk menjadi ”pengantin jihad” kelompok ISIS?

AFP
Dalam foto yang diambil dari video terbaru yang dirilis ISIS, terlihat anggota pasukan ISIS bersiap untuk memenggal sejumlah orang yang belakangan dipastikan sebagai anggota militer Suriah. 

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah besar perempuan Australia dikhawatirkan dalam perjalanan menuju Irak dan Suriah untuk menjadi ”pengantin jihad” kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah alias ISIS.

Sebanyak 30-40 perempuan diperkirakan telah bergabung di sana atau mendukung secara aktif dari Australia.

Hal itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop, Kamis (26/2), di depan parlemen Australia. Ia memperingatkan warga Australia untuk menghentikan gagasan atau mimpi ”perjalanan romantis” itu.

Sedikitnya 110 warga Australia telah meninggalkan negara itu. Sebagian besar adalah perempuan muda yang siap menjadi pengantin jihad bagi kelompok radikal Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) alias ISIS, baik yang sedang bergerilya di Irak maupun Suriah.

”Amat disayangkan, kita melihat sekelompok orang muda yang ingin bergabung dengan konflik di Suriah dan Irak. Jumlah perempuan muda itu kian meningkat,” kata Bishop yang juga menyikapi kasus paling heboh tentang tiga remaja Inggris yang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan NIIS.

Tiga remaja perempuan Inggris itu adalah Shamima Begum (15), Amira Abase (15), dan Kadiza Sultana (16). Ketiga remaja itu diketahui menyeberangi perbatasan Suriah dari Turki untuk bergabung dengan NIIS.

”Hal ini bertentangan dengan logika. Keluarga dan para sahabat agar menjangkau anak-anak muda yang berisiko sebelum terlambat,” ujar Bishop sambil menyebut kasus Amira Karroum.

Karroum (22) meninggalkan rumahnya di Sydney sebelum Natal tahun lalu. Belakangan diketahui, ia tewas dalam pertempuran di Suriah.

Beberapa alasan

Hal yang menarik, kata Bishop, banyak perempuan muda pergi ke daerah konflik di Timur Tengah karena beberapa alasan. Ada yang tertarik kepada pria teroris asing yang sedang bertempur di sana, pergi bersama pasangannya, atau mencari suami di sana.

Hal ini sebagian besar karena pengaruh media sosial yang mengajak mereka untuk menemukan pasangan di Suriah dan Irak.

Jumlah perempuan warga negara asing yang bergabung dengan NIIS, baik di Suriah maupun Irak, diperkirakan mencapai seperlima dari total anggota NIIS asal mancanegara. Ia memperingatkan, mereka bakal menghadapi rezim brutal yang amat mengancam kaum perempuan.

”(Kelompok) Ini adalah organisasi teroris yang memiliki rekam jejak g amat mengerikan ketika mereka menghadapi perempuan,” kata Bishop kepada radio ABC.

”Pembunuhan dan eksekusi seakan belum cukup bagi NIIS. Mereka benar-benar memiliki instruksi daring tentang memperlakukan budak seks, termasuk memerkosa dan memukuli perempuan. Mereka juga melakukan kekerasan seksual kepada anak-anak (perempuan), bahkan yang belum mencapai pubertas,” lanjutnya.

”Sikap mereka terhadap perempuan benar-benar mengerikan. Perempuan muda jangan lekas percaya bahwa ada beberapa petualangan romantis penting untuk mendukung Daesh (nama lain NIIS) dan organisasi teroris serupa,” ujarnya.
550 perempuan

Diperkirakan 550 perempuan dari seluruh Eropa telah melakukan perjalanan untuk bergabung dengan kelompok NIIS ataupun kelompok radikal lain di Timur Tengah. Bishop mengatakan, Australia sedang bekerja dengan komunitas Muslim untuk menghadapi risiko besar itu.

”Kami memiliki sejumlah inisiatif dan program masyarakat, bekerja sama dengan masyarakat setempat, bekerja sama dengan sekolah-sekolah, serta bekerja sama dengan keluarga,” katanya. ”Inisiatif kami untuk menanggulangi penyebaran konten ekstremis di situs-situs internet juga merupakan bagian dari usaha itu, bekerja sama dengan masjid-masjid lokal dan kelompok-kelompok masyarakat.”

Komentar Bishop itu muncul ketika seorang pria Australia yang pergi ke Suriah untuk memerangi militan dilaporkan tewas. Ia adalah orang Barat pertama yang meninggal dalam pertempuran bersama pejuang Kurdi melawan NIIS.

”Seorang pria Australia tewas, Selasa, dalam sebuah serangan besar oleh NIIS terhadap Unit Pelindung Masyarakat Kurdi (YPG) di dekat Tal Hamis, Provinsi Hasakeh, Suriah,” ujar Direktur Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) Rami Abdel Rahman. (Pascal S Bin Saju/ AFP/REUTERS/AP)

Sumber: KOMPAS
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved