Ketika Dunia Mulai Saling Berdamai, Oposisi Kurdi Masih Berjuang dari Gempuran Iran
Saat Israel-Lebanon mencapai kesepakatan gencatan senjata dan AS-Iran bakal berdamai, oposisi Kurdi malah berjuang dari gempuran bom.
Ringkasan Berita:
- Saat dunia saling berdamai satu sama lain, kelompok oposisi Kurdi Iran di pengasingan justru masih harus berjuang.
- Hanya berselang beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan jeda kemanusiaan di Lebanon, langit di wilayah Kurdistan, Irak, kembali membara.
- Drone-drone tempur milik Iran dilaporkan kembali menghujani pangkalan-pangkalan militer kelompok Kurdi di Koya dan sekitarnya.
TRIBUNNEWS.COM - Di saat dunia sedikit bernapas lega mendengar kabar gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, serta kabar perdamaian Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Nasib berbeda justru dialami oleh kelompok oposisi Kurdi Iran di pengasingan.
Bagi mereka, kata "damai" tampaknya masih jauh dari kenyataan.
Hanya berselang beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan jeda kemanusiaan di Lebanon, langit di wilayah Kurdistan, Irak, kembali membara.
Drone-drone tempur milik Iran dilaporkan kembali menghujani pangkalan-pangkalan militer kelompok Kurdi di Koya dan sekitarnya.
Dari data yang dihimpun Middle East Eye menunjukkan eskalasi yang mengerikan.
Sejak akhir Februari lalu, tak kurang dari 700 serangan drone dan rudal telah menghantam wilayah ini.
Kelompok Partai Demokratik Kurdistan Iran (PDKI) mengonfirmasi bahwa kamp mereka di Koya menjadi target utama serangan udara pada Kamis (16/4/2026) malam.
"Gencatan senjata di tempat lain tidak berarti apa-apa bagi kami. Serangan terus berlanjut tanpa henti," tulis perwakilan PDKI dalam pernyataan resminya.
Nasib para pejuang Kurdi ini kian terjepit. Di satu sisi, mereka terus digempur oleh militer Iran yang menuduh mereka sebagai kaki tangan asing dan pemicu kerusuhan internal di Teheran.
Di sisi lain, pemerintah Irak di Baghdad mulai kehilangan kesabaran dan mendesak mereka untuk segera angkat kaki dari wilayah perbatasan demi menjaga hubungan diplomatik dengan Iran.
Baca juga: Iran Beberapa Kali Hampir Bombardir Israel Demi Lebanon, Tekanan Teheran Picu Gencatan Senjata?
Meski ditekan dari berbagai arah, semangat perlawanan kelompok-kelompok ini belum padam.
Bagi banyak warga Kurdi di pengasingan, wilayah Kurdistan Irak adalah benteng terakhir mereka.
Analis politik melihat kegigihan Iran dalam menggempur wilayah ini sebagai bentuk ketakutan akan adanya "percikan" yang bisa membakar semangat pemberontakan di dalam wilayah Iran sendiri.
Pasalnya, kelompok-kelompok seperti PDKI dan Komala memiliki basis pendukung yang cukup kuat di wilayah barat Iran yang mayoritas beretnis Kurdi.