Menyelamatkan kota tua Jakarta dari kehancuran
Sebuah pendekatan baru dilakukan dalam upaya menyelamatkan kawasan kota tua di Jakarta dari kehancuran. Seperti apa mekanismenya?
Saya sengaja mewawancarainya untuk mengetahui seperti apa persepsi turis asing terhadap kawasan wisata kota tua Jakarta, terutama setelah ada program revitalisasi ala JOTRC.
"Kebanyakan turis mengatakan 'itu kok gedung-gedung tidak terawat ya'. Mungkin mereka gembira ketika menemukan ada gedung yang sudah diperbaiki," kata Dwi.
Dwi juga mengatakan, semenjak dikenalkan program baru revitalisasi kota tua, masalah keamanan relatif dapat diatasi. "Sampai malam pun, parkir di sini aman-aman aja," akunya.
Empat gedung telah direnovasi
Pada Maret tahun lalu, JOTRC telah menjalin kerja sama untuk penyewaan dengan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), pemilik sebagian besar gedung tua di kawasan kota tua Jakarta.
Saat itu dikatakan ada sedikitnya ada 17 aset gedung tua milik PT PPI yang akan disewa dan direvitalisasi oleh JOTRC, di antaranya gedung Toko Merah, Menara Kembar dan Kerta Niaga.
"Perjanjian sewa menyewa ini senilai Rp112 miliar selama 20 tahun, nantinya ada beberapa gedung yang akan kami revitalisasi," kata Presiden Direktur Jakarta JOTRC, Lin Che Wei, kepada media, usai penandatanganan kerja sama.
Sebagai tindak lanjut, kawasan kota tua Jakarta kemudian didaftarkan JOTRC sebagai nominasi Warisan budaya dunia UNESCO mewakili Indonesia.
Dan setelah sekitar setahun setelah kontrak kerjasama, Yayat mengaku pihaknya sudah merenovasi empat gedung tua di kawasan kota tua Jakarta.
Selain gedung kantor pos di depan Museum Fatahillah, JOTRC telah merenovasi gedung Jiwasraya di jalan Pintu Besar Timur, gedung Rotterdam Llyod, serta yang terakhir bekas gedung apotik Chung Hwa di kawasan Glodok.
Pertengahan Desember 2015 lalu, bangunan bekas apotik yang berdiri pada 1928 itu telah selesai direnovasi. Terletak di sebelah barat Pasar Glodok, bangunan itu 'disulap' menjadi kedai teh (tea house).
Kisah renovasi apotik Chung Hwa
Menjelang sore, saya mendatangi gedung tersebut, dan terlihat beberapa tukang tengah merapikannya. Puluhan kursi dan meja tengah disiapkan di dalamnya. Saya kemudian menghubungi arsitek Ahmad Djuhara, yang bersama istrinya, Wendi Djuhara, terlibat dalam revitalisasi gedung itu.
"Saya menerima penugasan ini, dengan diberikan bangunan yang sudah hancur. Jadi, tidak kelihatan lagi jejaknya, kecuali satu fasad di bagian jalan Pancoran Barat," kata Ahmad kepada BBC Indonesia.
Ketika memulai renovasi, dirinya mengaku dihadapkan masalah besar yaitu sebagian bangunan itu "terpotong oleh pelebaran jalan".
"Maka kami mencoba mengembalikan ke proporsi yang lama, tapi tidak berhasil. Jadi kita sedapat mungkin mendekatilah proporsi lama yang kami dapatkan dari foto," paparnya.