Selasa, 7 April 2026

AS Cabut Embargo, Pasar Senjata Vietnam Tetap Dikuasai Rusia

Amerika Serikat bakal tersisih dari Rusia untuk mengisi ceruk pasar kebutuhan persenjataan militer Vietnam.

Editor: Y Gustaman
ISTIMEWA
Pesawat tempur Sukhoi SU-27 Angkatan Udara Vietnam 

TRIBUNNEWS.COM, VIETNAM - Harapan Amerika Serikat banjir pesanan dari Hanoi untuk kebutuhan alat utama sistem persenjataan, setelah embargo untuk mereka dicabut, tak sesuai yang diharapkan.

Memang pernah seorang narasumber dari industri senjata menyampaikan pada Defense News bahwa Vietnam hendak meningkatkan sistem keamanan dan pertahanannya dengan membeli pesawat tempur F-16, memodernisasi pesawat patroli maritim P-3C Orion yang dipersenjatai dengan torpedo dan pesawat militer tanpa awak.

Kenyataannya, militer Vietnam terintegrasi erat dengan perangkat dan sistem pertahanan Rusia, sehingga sulit bagi negara lain, termasuk AS untuk menembus pasar tersebut. Demikian diberitakan RBTH Indonesia pada Rabu (8/6/2016).

Carl Thayer, profesor emeritus di Akademi Angkatan Bersenjata Australia, mengatakan pembelian skala besar mungkin masih jauh karena tenaga kerja dan jaringan logistik, perbaikan, dan perawatan senjata Vietnam sangat bergantung pada teknologi Soviet atau Rusia.

Standar ganda Amerika yang aneh terkait isu hak asasi manusia juga akan menjadi penghalang penjualan senjata antarnegara tersebut. Ketika negara teokrasi Timur Tengah yang terendam minyak, seperti Arab Saudi, bisa mendapat lampu hijau, pemerintah otoriter Vietnam sepertinya akan diperlakukan berbeda.

Selain itu, karena tak punya kantong tebal, Hanoi tak bisa berfoya-foya membelanjakan senjata AS, setidaknya dalam jangka pendek dan menengah. Ditambah lagi, militer Vietnam telah memesan sejumlah platform senjata Rusia sehingga Vietnam tak bisa menyisihkan dana bagi perangkat AS.

Hal itu termasuk kapal selam jarak jauh, sepertinya akan dipersenjatai dengan torpedo berat 533 mm dan misil Klub-S; enam kapal fregat siluman ringan kelas Gepard, masing-masing dipersenjatai dengan 8 misil antikapal Kh-35E, atau 4 misil antikapal supersonik SS-N-22 Sunburn; kesepakatan lisensi perakitan misil antikapal Rusia Kh-35; empat pesawat tempur Su-30MK2 tambahan, yang meningkatkan jumlah armada pasukan udara mereka menjadi 36 pesawat pada akhir 2016. Pesanan terbaru bernilai 600 juta dolar AS, untuk 12 jet, yang ditandatangani pada 2013.

Rusia mungkin bukan satu-satunya pemasok senjata Vietnam, tapi jelas merupakan mitra pertahanan yang paling penting.

Selain perangkat beroktan tinggi yang disebutkan di atas, Hanoi juga terikat dengan ekosistem pertahanan Rusia secara kritis.

Sebagai contoh, latihan penerbangan pesawat Su-30 bagi pasukan udara Vietnam dibantu oleh AU India, yang mengoperasikan pesawat yang sama. India juga melatih anggota AL Vietnam mengoperasikan kapal selam kelas-Kilo Rusia.

Defense Industry Daily (DID) menyebutkan, Vietnam sedang menilik peluang untuk memodernisasi setidaknya sebagian dari 480 armada tank tempur T-72 mereka dan membeli T-90 untuk menggantikan sekitar seribu armada T-55 yang sudah dimakan usia.

Uji kelayakan T-90 India dikabarkan telah selesai, termasuk dalam menghadapi iklim panas.

DID juga mengabarkan Vietnam sangat tertarik dengan peluncur-udara India-Rusia BrahMos, yang didesain untuk mengangkut pesawat tempur Su-30.

“Hal tersebut akan menambah sekitar 300 kilometer jangkauan serangan pesawat tempur Vietnam, menciptakan ancaman mematikan bagi kapal dan instalasi pesisir musuh. Penempatan kombinasi tersebut hampir sama signifikannya dengan kapal selam baru Vietnam dalam menggeser keseimbangan kekuatan di Laut Tiongkok Selatan secara keseluruhan.” (RBTH Indonesia)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved