Dipercepat, pembuatan vaksin untuk tiga virus mematikan
Sejumlah pemerintah dan badan amal berkomitmen menyumbang US$460 juta atau Rp6,1 triliun agar pengembangan vaksin untuk virus MERS, demam Lassa, dan virus Nipah dapat dipercepat.
Beberapa negara dan badan amal berkomitmen menyumbang US$460 juta atau Rp6,1 triliun agar pengembangan vaksin untuk virus MERS, demam Lassa, dan virus Nipah dapat dipercepat.
Dari 10 besar penyakit yang menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berpotensi menyebabkan wabah besar selanjutnya, Lassa, Mers, dan virus Nipah adalah tiga utama.
Lassa adalah demam berdarah yang mewabah di beberapa tempat di Afrika Barat. Penyakit ini timbul akibat kontak manusia dengan barang-barang yang terpapar kotoran hewan pengerat.
Selanjutnya, MERS merupakan akronim dari Sindrom Pernafasan Timur Tengah yang mewabah di Arab Saudi pada 2014. Penyakit yang sempat menyebar ke Korea Selatan dan menyebabkan WNI meninggal dunia ini diduga disebarkan oleh unta.
Adapun virus Nipah adalah virus yang menyebabkan demam pada manusia dan pada stadium lanjut bisa mematikan. Virus yang pertama kali mewabah di daerah Sungai Nipah, Malaysia, pada 1998 itu disebarkan kelelawar pemakan buah melalui babi.
Kucuran dana
Untuk mempercepat pengembangan vaksin, berbagai donatur mengumpulkan dana.
Komitmen dana Rp6,1 triliun bisa bertambah apabila para peserta Forum Ekonomi Dunia di Davos bersedia menyumbang US$500 juta atau Rp6,6 triliun.
- Studi terkini: Penduduk Indonesia paling rentan terpapar virus Zika
- Yang perlu Anda ketahui soal virus Zika
- Penemuan vaksin virus MERS 'selangkah lebih dekat'
Dari 10 besar penyakit yang menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berpotensi menyebabkan wabah besar selanjutnya, Lassa, Mers, dan virus Nipah adalah tiga utama.
Dengan kumpulan dana itu, Koalisi untuk Inovasi Persiapan Epidemi (Cepi) menargetkan dua vaksin eksperimen untuk setiap penyakit bisa terwujud dalam lima tahun. Biasanya, untuk mengembangkan vaksin baru diperlukan waktu selama 10 tahun dengan biaya ratusan juta dollar AS.
"Sebelum wabah 2014, kami mengalami epidemi Ebola dalam skala yang sangat kecil di komunitas-komunitas yang terisolasi sehingga bisa kami kendalikan. Namun, dalam dunia modern dengan urbanisasi dan perjalanan, epidemi abad ke-21 bisa dimulai di kota besar dan berkembang seperti yang dilakukan Ebola di Afrika Barat. Persiapan kita harus lebih baik," kata Jeremy Farrar, direktur Wellcome Trust, salah satu anggota pendiri Cepi.
"Sejauh ini kita beruntung," kata Jeremy Farrar, merujuk fakta bahwa wabah virus mematikan dalam beberapa tahun tidak menyebar lewat udara.
Namun, menurutnya, versi Ebola yang sangat menular bisa saja muncul.
"Saya bisa saja batuk hari ini dan menular ke Anda. Anda kemudian batuk yang menular ke orang lain besok dan menyebar sangat cepat. Ini membuat dunia menjadi tempat yang sangat rentan," katanya.
Tiada vaksin untuk Ebola
Wabah Ebola menewaskan lebih dari 11.000 orang di Liberia, Sierra Leone, dan Guinea. Wabah itu kemudian diikuti virus Zika di Brasil pada 2015 yang menyebabkan ribuan anak mengalami kelainan otak.
Dalam dua rangkaian peristiwa, tiada pengobatan atau vaksin yang bisa mencegah jatuhnya korban.
Virus Zika di Brasil pada 2015 menyebabkan ribuan anak mengalami kelainan otak. Situasi ini kemudian diwaspadai pemerintah Indonesia.