Sabtu, 30 Agustus 2025

Tragedi Kemanusiaan Rohingya

Kepala Urusan HAM PBB: Operasi Militer Myanmar Terhadap Rohingnya Tergolong Pembersihan Etnis

Berbicara pada awal Sidang Dewan HAM PBB, Zeid Ra'ad al-Hussein mengecam "operasi keamanan brutal" yang berlangsung di negara bagian Rakhine.

Editor: Adi Suhendi
TRIBUN MEDAN/Riski Cahyadi
Warga pengungsi etnis Rohingya asal Myanmar, menghindari asap (fogging) di lokasi penampungan Imigrasi kelas I khusus Medan, Sumatera Utara, Selasa (5/9/2017). Fogging tersebut dilakukan guna mencegah wabah penyakit demam berdarah yang sering muncul pada musim hujan.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Srihandriatmo Malau

TRIBUNNEWS.COM, JENEWA - Kepala urusan HAM Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengatakan operasi keamanan dan ketidakadilan yang dihadapi etnis minoritas Rohingya di Myanmar, "tampak tergolong pembersihan etnis."

Berbicara pada awal Sidang Dewan HAM PBB, Zeid Ra'ad al-Hussein mengecam "operasi keamanan brutal" yang berlangsung di negara bagian Rakhine.

Badan Pengungsi PBB mengatakan 270.000 orang dari Myanmar telah melarikan diri ke Bangladesh dalam tiga bulan terakhir.

Baca: DPR RI Desak Panglima Militer Myanmar Hentikan Kekerasan Terhadap Etnis Rohingya

Ia pun menunjuk citra satelit dan laporan mengenai "aparat keamanan dan milisi lokal yang membakar desa Rohingya" dan melakukan pembunuhan.

"Pemerintah Myanmar harus berhenti membakar rumah warga Rohingya dan desa mereka," tambahnya.

Ditambah lagi Myanmar menutup akses kepada peneliti hak asasi manusia.

"Situasi saat ini tidak bisa sepenuhnya dinilai, tetapi situasi tampaknya seperti pembersihan etnis," katanya.

Baca: Pemerintah Segera Kirim Bantuan Bagi Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Zeid pun tercengang mendengar laporan bahwa pemerintah Myanmar yang menanam ranjau darat sepanjang perbatasan.

Dilaporkan lebih dari 1.000 orang diyakini telah dibunuh dalam kekerasan di Myanmar, mayoritas adalah Muslim Rohingya.

Jumlah ini dua kali lipat dibandingkan laporan resmi pemerintah, demikian laporan dari perwakilan badan dunia PBB kepada AFP.

Baca: Indonesia Ajak Negara OKI Kerjasama Selesaikan Krisis di Rakhine State

Laporan tersebut juga memberi saran kepada pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi untuk segera berbicara dan turut menghentikan kekerasan.

Disebutkan dalam laporan itu, dalam dua pekan terakhir, 270.000 orang dari Rohingnya telah mengungsi ke Bandlades.

Lainnya tewas saat mencoba lari dari pertempuran di negara bagian Rakhine.

Saksi mata mengisahkan, desa-desa telah dibakar setelah militan Rohingnya melancarkan serangan terkoordinasi pada 25 Agustus lalu yang memicu serangan balik yang masif dari militer.

Berdasarkan pengakuan dari para saksi mata dan pola kekerasan sebelumnya, perwakilan PBB, Yanghee Lee, mengatakan, "Jumlahnya kemungkinan sekitar 1.000 atau lebih yang sudah tewas."

Lebih dari 1.000 orang diyakini telah dibunuh dalam kekerasan di Myanmar, mayoritas adalah Muslim Rohingya.

Jumlah ini dua kali lipat dibandingkan laporan resmi pemerintah, demikian laporan dari perwakilan badan dunia PBB kepada AFP.

Laporan tersebut juga memberi saran kepada pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi untuk segera berbicara dan turut menghentikan kekerasan.

Disebutkan dalam laporan itu, dalam dua pekan terakhir, 270.000 orang dari Rohingnya telah mengungsi ke Bandlades.

Lainnya tewas saat mencoba lari dari pertempuran di negara bagian Rakhine.

Saksi mata mengisahkan, desa-desa telah dibakar setelah militan Rohingnya melancarkan serangan terkoordinasi pada 25 Agustus lalu yang memicu serangan balik yang masif dari militer.

Berdasarkan pengakuan dari para saksi mata dan pola kekerasan sebelumnya, perwakilan PBB, Yanghee Lee, mengatakan, "Jumlahnya kemungkinan sekitar 1.000 atau lebih yang sudah tewas." (AP/AFP/Reuters)

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan