Tragedi Kemanusiaan Rohingya
Begini Pendapat Warga Myanmar Soal Tragedi Kemanusiaan di Rakhine State
Dari beberapa orang yang ditemui Tribunnews di Kota Yangon, tidak banyak orang yang ingin mengungkapkan pendapatnya, bahkan cenderung menghindar.
Penulis:
Imanuel Nicolas Manafe
Editor:
Adi Suhendi
Diketahui, 30 pos kepolisian dan pangkalan militer di Myanmar yang diserang pada tanggal 25 Agustus waktu itu dikakukan kelompok yang menamai dirinya ARSA.
ARSA atau Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) adalah kelompok dari etnis muslim Rohingya yang ingin memperjuangkan etnis mereka untuk mendapatkan hak-hak mereka.

Satu lagi, di Myanmar sendiri sangat anti penyebutan kata Rohingya.
Sejak awal berada di Myanmar, mereka sama sekali tidak ingin menyebut kata itu.
Bahkan, wanti-wanti dari pihak KBRI pun telah disampaikan kepada awak media yang berangkat ke sana agar tidak menyebut kata Rohingnya ketika melakukan peliputan di sana.
Sebab, persepsi publik di Myanmar maupun di Indonesia sangat berbeda memandang dan menilai siapa itu yang disebut Etnis Rohingya.
Meski demikian, kehidupan beragama di Myanmar cukup harmonis, tidak terpengaruh isu-isu agama di balik tragedi kemanusiaan di Negara Bagian Rakhine.
Hal itu nampak ketika seorang perempuan yang mengenakan busana muslim bebas berjalan di pedestrian Jalan Bagaya, Kota Yangon.
Tidak ada sorot mata tajam dari warga setempat melihat perempuan itu berjalan.
Pengakuan warga pun melihat dan menilai peristiwa tragedi kemanusiaan itu jauh dari unsur agama.
Mereka lebih menekankan pada perbuatan kriminal yang telah dilakukan kelompok tertentu.