Sabtu, 30 Agustus 2025

Tragedi Kemanusiaan Rohingya

Begini Pendapat Warga Myanmar Soal Tragedi Kemanusiaan di Rakhine State

Dari beberapa orang yang ditemui Tribunnews di Kota Yangon, tidak banyak orang yang ingin mengungkapkan pendapatnya, bahkan cenderung menghindar.

Tribunnews.com/ Imanuel Nicolas Manafe
Masjid Chulia Muslim Dargah di Jalan Bogyoke Aung San Market, Yangon 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Imanuel Nicolas Manafe

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tragedi kemanusiaan yang terjadi di Rakhine State, Myanmar pada 25 Agustus 2017 membuat sekira 400.000 orang melarikan diri ke Bangladesh.

Tragedi kemanusiaan tersebut menjadi pemberitaan santer di beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia.

Banyak korban, terutama dari kelompok masyarakat yang beragama Islam membuat tragedi kemanusiaan tersebut menjadi perhatian banyak pihak.

Baca: Pengungsi Rohingya Temukan Keluarga Baru di Adelaide

Lalu bagaimana warga Myanmar sendiri melihat tragedi kemanusiaan itu terjadi di negaranya?

Dari beberapa orang yang ditemui Tribunnews di Kota Yangon, tidak banyak orang yang ingin mengungkapkan pendapatnya, bahkan cenderung menghindar.

Namun, Tribunnews tidak sempat bertanya siapa nama warga tersebut karena keterbatasan bahasa.

Mereka yang ditemui sulit berbahasa Inggris dan sulit melafalkan nama mereka secara tepat.

Baca: Penduduk Myanmar Lebih Nyaman Pakai Sarung Ketimbang Celana

Tiga diantara lima orang yang ditemui di kawasan Swhedagon Pagoda itu langsung memalingkan mukanya sambil melambaikan tangan pertanda enggan berkomentar.

Dua lainnya yang ditemui di lokasi yang sama, sempat berkomentar bahwa mereka sama sekali tidak ingin ikut campur mengenai hal itu.

"Itu bukan urusan saya," kata pria yang mengenakan sarung atau Longyi itu.

Bahkan, pria lainnya menilai apa yang terjadi di Negara Bagian Rakhine itu murni penindakan yang dilakukan Pemerintah untuk ketertiban dan keamanan nasional negara Myanmar.

Baca: Wanita Rohingya Mengaku Dilecehkan Secara Seksual Oleh Militer Myanmar

Diketahui, 30 pos kepolisian dan pangkalan militer di Myanmar yang diserang pada tanggal 25 Agustus waktu itu dikakukan kelompok yang menamai dirinya ARSA.

ARSA atau Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) adalah kelompok dari etnis muslim Rohingya yang ingin memperjuangkan etnis mereka untuk mendapatkan hak-hak mereka.

Suasana pusat perbelanjaan di Myanmar yang bernama Bogyoke
Suasana pusat perbelanjaan di Myanmar yang bernama Bogyoke Aung San Market, Yangon

Satu lagi, di Myanmar sendiri sangat anti penyebutan kata Rohingya.

Sejak awal berada di Myanmar, mereka sama sekali tidak ingin menyebut kata itu.

Bahkan, wanti-wanti dari pihak KBRI pun telah disampaikan kepada awak media yang berangkat ke sana agar tidak menyebut kata Rohingnya ketika melakukan peliputan di sana.

Sebab, persepsi publik di Myanmar maupun di Indonesia sangat berbeda memandang dan menilai siapa itu yang disebut Etnis Rohingya.

Meski demikian, kehidupan beragama di Myanmar cukup harmonis, tidak terpengaruh isu-isu agama di balik tragedi kemanusiaan di Negara Bagian Rakhine.

Hal itu nampak ketika seorang perempuan yang mengenakan busana muslim bebas berjalan di pedestrian Jalan Bagaya, Kota Yangon.

Tidak ada sorot mata tajam dari warga setempat melihat perempuan itu berjalan.

Pengakuan warga pun melihat dan menilai peristiwa tragedi kemanusiaan itu jauh dari unsur agama.

Mereka lebih menekankan pada perbuatan kriminal yang telah dilakukan kelompok tertentu.

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan