Senin, 13 April 2026

Dua perempuan Muslim Australia beda suara tentang perkawinan sejenis

Walau sama-sama mengenakan jilbab, dua perempuan Muslim asal Indonesia di Australia memberi suara berbeda dalam survei tentang perkawinan sesama

Sekitar 61% warga Australia mendukung pengesahan perkawinan sesama jenis, seperti terungkap dalam jajak yang berlangsung selama delapan pekan.

Walau survei dengan tingkat partisipasi sebesar 79.5% itu tidak mengikat, Perdana Menteri Malcolm Turnbull sudah mengatakan pemerintahnya akan berupaya meloloskan undang-undang untuk perkawinan sesama jenis sebelum Natal.

Australia, homoseksual
Getty Images
PM Malcolm Turnbull mengatakan akan berupaya meloloskan undang-undang untuk perkawinan sesama jenis sebelum Natal.

Jajak itu sendiri mengajukan satu pertanyaan, "Seharusnyakah undang-undang perkawinan diubah untuk mengizinkan sesama jenis kelamin menihak?" dengan jawaban Ya atau Tidak.

Ikut dalam jajak tersebut adalah dua perempuan asal Indonesia, Nasya Bahfen dan Nadia Asikin, yang sama -sama tinggal di Melbourne. Keduanya merupakan perempuan Muslim yang mengenakan jilbab namun memberikan suara yang berbeda.

Ya - Nasya Bahfen , tinggal di Australia sekitar 30 tahun lebih

"Alasannya sebagai salah satu minoritas di Australia, yaitu minoritas Muslim, saya percaya bahwa semua hak asasi manusia harus diberi kepada semua minoritas. Jadi anggota kaum LBGT, mereka juga sebagai minoritas dan kita harus solidaritas dengan mereka," jelas Nasha kepada wartawan BBC Liston P Siregar.

Dosen di Universitas La Trobe ini menegaskan bahwa pilihannya itu terpisah dari pengajaran dan prinsip dalam agamanya sendiri.

"Tapi saya rasanya kurang setuju kalau saya, misalnya, tidak bergerak untuk hak yang kita nikmati sebagai minoritas, seperti makanan halal atau hak untuk salat atau sembahyang di kantor."

Nasya juga yakin bahwa ajaran agama Islan adalah menghormati semua peraturan di negeri tempat tinggal kecuali peraturan itu menghindari kita beribadah'"

"Dan peraturan ini, setelah pemungutan suara yang tidak binding (mengikat) kemungkinan besar sebelum natal sudah jadi undang-undang. Tapi peratauran seperti ini tidak ada akibatnya dengan ibadah kita, tidak menghindari ibadah kita.

"Jadi kalau dari sisi agama, saya merasa tidak ada kontradiksi," tegasnya.

Menurut Nasya banyak umat Muslim di Melbourne yang memberikan suara 'tidak' sehingga pendapatnya bukan bagian dari pandangan mayoritas di kalangan komunitasnya.

"Saya seperti banyak teman, pasang foto di media sosia bahwa saya pilih Yes dan langsung teman-teman saya di Facebook, misalnya langsung kurang 10 orang," tuturnya diikuti tawa kecil.

"Ya berbeda pendapat tentang masalah ini namun saya punya alasan yang kuat untuk memilih."

Tidak - Nadia Asikin, tinggal di Australia sejak tahun 2001

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved