Iran Makin Panas, Pemerintah Tangkap Mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad

Pemerintah Iran dikabarkan menangkap mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad di kota Shiraz.

rediff
Mahmoud Ahmadinedjad. 

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran dikabarkan menangkap mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad di kota Shiraz.

Ahmadinejad dianggap memicu kerusuhan dan demonstrasi.

Dikutip dari portal berita asal Arab Saudi, Al Arabiya, pemerintah Iran menyebut pernyataan Ahmadinejad yang dia sampaikan di kota Bushehr adalah penyebab merebaknya unjuk rasa di negeri itu.

Harian Al-Quds Al-Arabi, koran berbahasa Arab terbitan London, menulis pemerintah berencana menempatkan Ahmadinejad dalam tahanan rumah dengan persetujuan Ayatollah Ali Khamenei.

Pernyataan kontroversial Ahmadinejad itu diucapkannya saat berkunjung ke kota Bushehr pada akhir Desember lalu.

Ahmadinejad mengatakan, rakyat Iran menderita akibat 'salah urus'.

Dalam komentarnya, Ahmadinejad mengatakan Presiden Hassan Rouhani menganggap diri sebagai penguasa dan sama sekali tak memedulikan rakyat.

"Beberapa orang pemimpin saat ini hidup terpisah dari berbagai permasalahan rakyat dan tidak mengetahui kondisi masyarakat yang sesungguhnya," tambah Ahmadinejad seperti dikabarkan harian tersebut.

Pemerintah Iran kemudian menuduh Ahmadinejad memicu lebih banyak unjuk rasa.

Tuduhan serupa juga dilontarkan kepada politisi Mehdi Karroubi dan mantan perdana menteri Mir-Hossein Mousavi.

Dalam sebuah pernyataan yang direkam video, Ahmadinejad juga melontarkan kritiknya kepada Amole Larijani, kepala sistem peradilan Iran.

"Saya tak punya anak yang menjadi mata-mata Barat, saya tak punya saudara yang menyelundupkan berbagai barang, dan saya tidak mencuri tanah untuk memelihara ternak," ujar Ahmadinejad.

Aksi unjuk rasa yang saat ini terjadi dianggap sebagai yang terbesar dalam hal menentang pemerntahan Iran sejak  Gerakan Hijau pada 2009, setelah Ahmadinejad terpilih kembali menjadi presiden.

Hingga Minggu (7/1/2017), unjuk rasa di Iran sudah memasuki hari kesebelas dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti meski sudah mengakibatkan 50 nyawa melayang. (*)

Editor: Aji Bramastra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved