Sabtu, 11 April 2026

Bonita dan nasib harimau Sumatera yang terdampak ‘problem alih fungsi lahan’

Selama tiga bulan terakhir masyarakat Riau dilanda kecemasan terkait keberadaan harimau Sumatera berjuluk Bonita yang telah menerkam dua warga

Tanpa ada prasangka, pada 10 Maret lalu, Rusli, Sarman, Indra, dan Yusri Effendi pergi dari rumah mereka melewati Sungai Kateman di Dusun Sinar Danau, Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Pagi itu, keempat pria tersebut hendak merampungkan pembangunan rumah burung walet.

Pekerjaan berlangsung seperti biasa, tanpa hambatan. Namun, setelah makan siang, keempatnya dikejutkan oleh keberadaan harimau. Mereka sontak naik memanjat bagian atas bangunan.

Kejadian itu, sebagaimana dipaparkan salah seorang pria kepada Mongabay, berlangsung sampai tiga kali.

Keempat pria itu baru berani turun saat langit sudah gelap dan jam menunjukkan pukul 18.00. Dalam perjalanan pulang, mereka berjalan berbaris. Yusri paling depan, diikuti Sarman, Indra, dan Rusli.

Tiba-tiba di tengah perjalanan, sang harimau kembali muncul. Mereka langsung lari lintang pukang, berpencar masing-masing.

Selang beberapa menit kemudian, Sarman memanggil saudara-saudaranya dan mengajak berkumpul. Hanya ada tiga orang, termasuk dia, yang menampakkan diri. Yusri hilang entah ke mana. Sarman, Indra, dan Rusli kemudian memutuskan mencari bantuan warga.

Dalam pencarian, Yusri ditemukan tidak bernyawa di atas rumput yang digenangi air. Tengkuknya sobek karena bekas gigitan harimau.

Korban kedua

Yusri merupakan korban kedua terkaman harimau yang dijuluki Bonita oleh masyarakat setempat.

Korban sebelumnya adalah Jumiati di Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, pada 3 Januari 2018. Perempuan itu diterkam harimau di dalam lahan konsesi PT Tabung Haji Indo Plantation saat sedang melakukan pendataan sawit.

Dua hari setelah Yusri meninggal dunia, puluhan warga mendatangi kantor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau dan menyampaikan ultimatum.

Mereka menuntut BBKSDA membunuh Bonita dalam kurun tiga hari.

Walau tidak bisa berjanji membunuh Bonita dalam waktu yang ditentukan, tekanan warga mendorong BBKSDA untuk meningkatkan pelacakan harimau tersebut.

Dan pada 16 Maret lalu, Bonita sempat roboh kena tembakan bius. Namun tak lama setelah itu dia kabur ke dalam hutan.

"Pascapenembakan bius, sekarang dia lagi keluar dari area perkebunan. Bagian tengah perkebunan itu ada green belt, lebarnya sekitar 1,6 kilometer memanjang dari timur ke barat. Tim pada posisi cooling down, karena dia sudah cukup sadar ada kita yang akan membawa dia," tutur Kepala Bidang Wilayah I BBKSDA Riau, Mulyo Utomo, kepada BBC Indonesia.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved