Senin, 27 April 2026

Bonita dan nasib harimau Sumatera yang terdampak ‘problem alih fungsi lahan’

Selama tiga bulan terakhir masyarakat Riau dilanda kecemasan terkait keberadaan harimau Sumatera berjuluk Bonita yang telah menerkam dua warga

"Luas green belt yang di tengah kebun sawit sekitar 2.500 hektare. Ke arah baratnya ada hutan produksi, jadi green belt langsung connect dengan hutan produksi. Nah, di hutan produksi itu ada sungai kecil dan danau. Masyarakat memanfaatkan air danau untuk kebutuhan kampung kecil, namanya Dusun Danau," tutur Mulyo Utomo.

Alih fungsi lahan dan perilaku harimau

Habitat Bonita yang berada di antara lahan sawit, hutan produksi, dan permukiman penduduk menggambarkan akar permasalahan konflik harimau dan manusia di Sumatera.

"Harimau ini sebenarnya tidak mengganggu manusia jika habitatnya tidak terganggu. Ketika ruang jelajah dan pasokan makannya berkurang, dia merasa terancam, konflik satwa dan manusia pun terjadi,'' ungkap Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya, di Jakarta, Senin (19/3).

Pada kasus Bonita, daya dukung lingkungan terhadap kebutuhan dasarnya sudah tidak mencukupi lagi. Ruang jelajahnya juga terputus-putus karena banyaknya alih fungsi lahan, dari hutan menjadi kebun.

Berdasarkan data WWF, wilayah jelajah harimau sumatera di Riau lebih kurang 60 kilometer per segi. Sedangkan di Rusia, wilayah jelajah harimau bisa sampai 250 kilometer per segi.

Lokasi kejadian kasus Bonita, berada pada kawasan yang didominasi oleh Hutan Tanaman Industri (HTI) dan hanya menyisakan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan dengan luas sekitar 93 ribu hektare, sebagai satu-satunya lokasi konservasi bagi satwa liar di kawasan tersebut.

''Kenapa Bonita susah ditangkap? ya karena medannya berat. Saya sudah pernah fly over, bahkan turun langsung ke lapangan. Memang dari satu tempat ke tempat lainnya di situ kebun yang luas. Padahal seharusnya ada ruang-ruang untuk habitat satwa,'' kata Menteri Siti.

''Ada problem dari alih fungsi lahan, yang dalam prakteknya belum diterapkan dengan optimal,'' imbuhnya.

Keterangan Menteri Siti Nurbaya diamini Sunarto, peneliti harimau di WWF.

Menurutnya, perambahan lahan yang kerap dilakukan perusahaan sawit dan perusahaan kertas, membuat harimau sulit menerapkan taktik berburu dengan cara menyergap.

"Cara harimau berburu mangsa adalah dengan bersembunyi lalu menyergap. Beda dengan cheetah di Afrika yang bisa berlari mengejar mangsa dalam jarak ratusan meter. Nah, taktik berburu dengan menyergap ini susah dilakukan kalau tutupan vegetasinya minim," ujar Sunarto.

Intensitas perjumpaan harimau dan manusia juga semakin sering karena tempat hidup harimau kian mengecil akibat perambahan lahan .

"Deforestasi di Sumatera, khususnya di Riau, dan lebih khusus lagi di daerah ini memang terjadi sangat drastis. Hutan Kerumutan dan Kampar sudah mulai terpisah dalam kurun 10-15 tahun terakhir. Ini yang membuat harimau disorientasi atau kehilangan jalur yang secara tradisional dilalui. Tiba-tiba terputus oleh perkebunan, tiba-tiba ada permukiman. Ini yang membuat interaksi harimau dengan manusia jadi semakin intens," papar Sunarto.

Bonita sakit?

Bagaimanapun, Mulyo Utomo dari BBKSDA Riau menganggap keberadaan perusahaan kayu dan sawit merupakan keniscayaan.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved