Rabu, 29 April 2026

Apa yang kita lakukan jika baterai sudah tidak bisa dipakai lagi?

Banyak dari kita membuang baterai bekas ke tempat sampah, padahal itu berbahaya sekali. Lalu, apa yang kita lakukan jika baterai sudah tidak

Tayang:

Coba perhatikan, ada berapa banyak barang di rumah kita yang menggunakan baterai? Hampir semua perangkat elektronik menggunakan baterai supaya bisa berfungsi. Setelah baterai menjadi usang, banyak dari kita membuangnya ke tempat sampah, padahal itu berbahaya sekali. Lalu, apa yang kita lakukan jika baterai sudah tidak bisa dipakai lagi?

Faradhiba sedang membuka laci di rumahnya ketika putranya, Rafa Jafar, tiba-tiba bertanya soal banyaknya baterai dan telelpon seluler bekas di dalam laci itu.

Perempuan yang akrab disapa Dhiba ini beralasan, dia kebingungan ke mana membuang sampah elektronik itu.

"Suatu hari dia ngeliat saya buka laci. Dia tanya, 'kenapa banyak baterai? kenapa banyak handphone bekas?'," tutur Dhiba kepada BBC News Indonesia.

"Aku berharap sebetulnya bisa diperbaiki, tapi karena butuh jadi beli lagi, akhirnya cuma disimpan di laci, itu yang membuat dia bertanya," ungkapnya kemudian.

Momen itulah yang kemudian menginspirasi Rafa Jafar, akrab disapa RJ, untuk melakukan eksperimen yang berfokus pada isu penggunaan berlebihan alat-alat elektronik.

Dan beberapa tahun kemudian, menginisiasi gerakan peduli sampah elektronik.

Lantas, apa yang membuat RJ tertarik untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya sampah baterai?

Alasannya, jelas RJ, karena hampir semua alat elektronik yang kita gunakan sehari-hari menggunakan baterai supaya bisa berfungsi. Mulai dari ponsel, laptop, jam, mainan, bahkan mobil kini juga menggunakan baterai. Namun, di sisi lain, bahaya mengancam para penggunanya.

"Baterai itu juga salah satu limbah elektronik yang paling berbahaya, yang paling beracun, kalau misalnya udah mati atau udah rusak," ungkap RJ.

Untuk membuktikan bahayanya, RJ melakukan beberapa eksperimen. Salah satunya, menanam baterai bekas di tanah yang ditumbuhi tanaman.

"Aku nanem didalam tanaman, setelah seminggu dibandingkan dengan tanaman yang nggak ditanam (baterai), dan setelah seminggu jelas perbedaannya."

"Yang nggak ada baterainya tetap hijau, tetap fresh (segar). Tapi yang ditanam baterai menjadi lebih layu," kata dia.

Namun nyatanya, tak semua orang paham bahaya sampah baterai dan sampah elektronik.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved