Pengamat: Kecewa dengan NATO dan Uni Eropa, Turki Ingin Gabung dengan BRICS
Erdogan percaya, ada kebutuhan untuk mendiversifikasi kebijakan luar negeri Turki.
TRIBUNNEWS.COM, ANKARA - Melontarkan ide akan bergabung dengan BRICKS, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berusaha untuk mendiversifikasi kebijakan luar negeri negaranya, dengan tawaran masuk dalam keanggotaan dalam Uni Eropa (UE) akan terhenti dan hubungan dengan Amerika Serikat (AS) akan membeku.
Seperti yang disampaikan seorang pengamat kepada Russia Today.
Dilansiri dari laman Russia Today, Selasa (31/7/2018), Erdogan juga telah menyarankan kepada para pemimpin blok BRICKS yang saat ini beranggotakan 5 negara, yakni Brazil, Rusia, India, Cina (Tiongkok) dan Afrika Selatan untuk menambahkan huruf 'T' pada akronim blok mereka.
Ia sebelumnya telah diundang untuk menghadiri forum terbaru blok itu dan mengatakan kepada Hurriyet Daily News di sela agendanya, bahwa anggota BRICKS saat ini menyambut baik gagasan aksesi Turki.
Evgeniy Bakhrevskiy, Wakil Direktur dari Institut Riset Budaya dan Warisan Alam Rusia mengatakan kepada Russia Today bahwa poros yang diinginkan Erdogan ini berakar dari kekecewaan Turki yang semakin meningkat terhadap Barat.
Erdogan percaya, ada kebutuhan untuk mendiversifikasi kebijakan luar negeri Turki.
"Hal itu karena ia sangat kecewa dengan struktur barat, dengan Uni Eropa, ia juga memiliki sedikit ketegangan hubungan dengan AS," kata Bakhrevskiy.
Stevan Gajic, seorang Peneliti dari Institut Studi Eropa di Beograd, berpendapat bahwa keinginan itu bukan berdasar pertimbangan geopolitik, namun sesuatu yang sangat pribadi dan telah mendorong Erdogan untuk mengupayakan 'kesetiaan' yang baru.
Gajic percaya bahwa upaya kudeta militer yang digagalkan pada 2016 lalu, kemudian kemenangan Presiden Bashar al Assas di Suriah atas bantuan Rusia, merupakan dua faktor utama yang merubah pandangan Erdogan.
Keputusan itu juga datang pada saat impian lama Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa berada dalam kondisi kritis, dengan proses aksesi yang secara efektif 'membeku'.
Meskipun Uni Eropa adalah mitra dagang utama Turki, namun negara itu masih terjebak di 'ruang tunggu' blok UE.
"Sebuah situasi yang dengan sendirinya terasa sebagai suatu 'penghinaan' terhadap Turki," pappar Bakhrevskiy.
Hubungan Turki dengan AS juga mengalami masa sulit, dengan munculnya sentimen anti-Amerika yang sangat kuat pada hampir seluruh lapisan masyarakat Turki.
"Itu karena dukungan Amerika untuk milisi Kurdi dalam memerangi ISIS.
Turki memandang Kekuatan Demokrasi Suriah (SDF) yang didukung AS, serta Unit Perlindungan Rakyat (PYD) yang merupakan perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) sebagai bagian dari organisasi teroris.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/recep-dan-putin-nih2_20180731_153224.jpg)