Rabu, 27 Mei 2026

Mengapa Orang di Sudan Masih Menyimpan Uang di Bawah Kasur?

Jika penduduk menabung di bank, dananya akan sulit diambil dari ATM karena sering kali kosong.

Tayang:
Editor: Hasanudin Aco
AFP
Warga Sudan memilih simpan uang di rumah 

Mirip Arab Spring, pergolakan di Arab

Aksi itu menjadi unjuk rasa menuntut diakhirinya kekuasaan Presiden Omar al-Bashir.

Pemrotes, yang menggunakan slogan Arab Spring, meneriakkan, "Rakyat menginginkan rezim diturunkan."

Unjuk rasa di Khartoum adalah yang terbesar sejak Presiden Bashir mulai berkuasa pada tahun 1989 lewat kudeta militer yang didukung kelompok berhaluan Islam.

Para pejabat mengatakan 19 orang tewas karena pasuka keamanan berusaha meredam protes, tetapi organisasi hak asasi manusia Amnesty International menyatakan pihaknya memiliki laporan yang dapat dipertanggungjawabkan bahwa 37 pengunjuk rasa terbunuh.

Banyak warga dari kelompok oposisi ditangkap dan para wartawan ditahan dan dilecehkan karena meliput unjuk rasa.

Hal ini meningkatkan tekanan terhadap presiden yang telah berumur 75 tahun, yang oleh warga dikatakan terlihat lelah dan agak kebingungan saat berbicara dengan pejabat tinggi polisi seminggu lalu.

Dia mendesak mereka untuk mengurangi penggunaan kekerasan saat menghadapi para pemrotes, tetapi al-Bashir kemudian terkesan memberikan pernyataan yang berlawanan saat mengatakan: "Apa hukuman yang tepat? Pembunuhan, eksekusi, tetapi Tuhan memandangnya sebagai sebuah kehidupan karena hal ini dapat mencegah tindakan pihak lain agar keamanan terpelihara."

Pernyataan ini dipandang sebagai lampu hijau untuk menerapkan pendekatan yang lebih keras. Hari berikutnya, saat ribuan orang turun ke jalan-jalan di Khartoum, tiga orang ditembak di bagian kepala dan seorang dokter ditembak di bagian pahanya oleh penembak jitu, kata para pegiat.

Sementara itu pemerintah menuduh sejumlah orang dari Darfur berada di belakang unjuk rasa, melakukan sabotase dan vandalisme.

Sekelompok mahasiswa Darfur yang bukan keturunan Arab ditangkap. Mereka diduga telah dilatih intelijen Israel untuk menyabotase negara. Rekan-rekan mereka telah menyangkal dan menuduh pemerintah menjadikan mereka sebagai kambing hitam.

Sebagai bentuk dukungan pada para mahasiswa, pengunjuk rasa menambahkan teriakan, "Anda kelompok rasis yang sombong, kami semua orang Darfur", saat mereka berdemonstrasi.

Presiden Bashir berjanji meningkatkan gaji pegawai negeri untuk mengatasi masalah, tetapi tindakan ini sepertinya tidak akan mengatasi inti masalah.

Dalam pidato di depan para pendukungnya di Khartoum, dia menyebutkan apa yang terjadi di Suriah sebagai sebuah peringatan, dengan mengatakan ketidakstabilan dapat membuat mereka menjadi pengungsi.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved