Mantan perwira Angkatan Udara AS disebut mualaf dan dituduh jadi mata-mata Iran
Seorang mantan perwaira Angkatan Udara Amerika Serikat digugat atas tuduhan menjadi mata-mata untuk Iran dalam operasi yang menyasar sesama
Monica Elfriede Witt, yang pernah bermukim di Texas, meninggalkan dinas kemiliteran AS pada 2008 setelah lebih dari satu dekade bertugas.
Poster orang hilang yang dilansir FBI menyebutkan dia pernah bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Afghanistan atau Tajikistan. Witt juga disebut pernah tinggal di luar negeri selama lebih dari setahun sebelum menghilang.
Saat berada di Iran, Witt diduga menjadi mualaf dalam acara televisi setelah menyebut dirinya sebagai veteran tentara AS. Witt juga pernah menyampaikan sejumlah siaran, yang dalam kesempatan itu dia mengkritik AS.
Beberapa pekan setelah membelot, dia melakukan pencarian Facebook pada mantan kolega-koleganya dan diduga mengungkap identitas asli salah seorang agen "sehingga memunculkan risiko pada individu tersebut".
Surat perintah penangkapan telah dikeluarkan untuk Witt, yang keberadaannya masih belum diketahui.
Bagaimana kondisi hubungan AS-Iran?
November 2018 lalu, Presiden AS Donald Trump kembali menerapkan rangkaian sanksi terhadap Iran yang sebelumnya dibekukan lantaran kesepatan nuklir 2015.
Trump kemudian menarik AS keluar dari kesepakatan itu sekaligus menimbulkan perseteruan dengan negara-negara Eropa yang turut menandatangani perjanjian.
Para diplomat dari berbagai negara diperkirakan akan kembali membahas Iran dalam pertemuan "perdamaian dan keamanan" selama dua hari di Warsawa, Polandia, mulai Rabu (13/2).
Pada pembukaan konferensi itu, pengacara pribadi Trump, Rudy Giuliani, menyampaikan pidato yang menyerukan pergantian rezim di Iran.