Tujuh emosi yang sudah sirna atau telah berubah
Emosi - dan cara emosi itu sendiri terjadi, diekspresikan dan dibicarakan - dapat berubah seiring dengan berjalannya waktu dan membantu kita
"Kita menggunakan kata 'nostalgia' secara cukup bebas sekarang, tetapi ketika pertama kali digunakan, kata tersebut merujuk pada hal yang disebut sebagai penyakit fisik." Demikian dikatakan oleh Dr Chaney.
"Itu adalah penyakit Abad ke-18 yang dialami para pelaut: sesuatu yang terjadi ketika mereka jauh dari rumah, dan dikaitkan dengan kerinduan akan rumah."
Berbeda dengan nostalgia di masa modern, nostalgia versi Abad ke-18 disertai dengan gejala-gejala fisik.
Pelaut yang mengalami nostalgia merasa lelah, lesu, mengalami nyeri misterius dan tidak bisa bekerja. Kondisi nostalgia yang buruk bahkan dapat menyebabkan kematian.
Hal itu tidak dapat dibandingkan dengan definisi nostalgia versi modern, merindukan masa lalu yang indah.
5. Shell shock (sakit saraf karena pertempuran)
Sebagian besar orang telah mendengar kata shell shock, kondisi yang dialami oleh tentara yang bertugas di parit-parit dalam Perang Dunia I.
Di masa lalu istilah shell shock, seperti melankolis dan nostalgia menyentuh batas aneh antara emosi dan penyakit sesuai dengan cara bagaimana hal itu dibicarakan dan cara pengobatannya.
"Orang yang menderita sakit saraf karena pertempuran, ia mengalami kekejangan aneh dan seringkali kehilangan kemampuan untuk melihat dan mendengar, meskipun orang tersebut secara fisik tampak tidak mengalami gangguan apa pun," jelas Dr Chaney dari Pusat Sejarah Perasaan, Inggris.
6. Hypochondriasis (hipokondriasis)
Hipokondriasis adalah kondisi yang ketika menjelang Abad ke-19 sepenuhnya berkaitan dengan emosi.
"Pada intinya kondisi tersebut merupakan versi kaum laki-laki dari kondisi yang oleh dokter di zaman Victoria disebut sebagai 'histeria'," jelas Dr Chaney.
"Kondisi itu diyakini menyebabkan keletihan, rasa nyeri dan persoalan pencernaan. Pada Abad ke-17 dan 18, hipokondriasis diyakini disebabkan oleh limpa, tetapi kemudian disebut disebabkan oleh saraf."
Di zaman Victoria, orang meyakini gejala-gejala itu disebabkan oleh hipokondriasis, atau ketakutan berlebihan bahwa ia memiliki penyakit medis yang serius. Jadi meskipun tampak gejala-gejala fisik, pikiran dan emosi lah yang sejatinya diyakini sakit.