Rabu, 29 April 2026

Apollo 11: Kisah bagaimana proyek luar angkasa menyatukan umat manusia

Program pengiriman manusia ke luar angkasa bermula dari konflik dan perang. Namun proyek itu justru terus menginspirasi dunia untuk bersatu

Tayang:

Setelah tiba dengan aman di orbit, Buzz Aldrin mengambil kamera video berwarna generasi pertama untuk merekam bumi yang terlihat biru muda. Ia mengabadikan momen itu secara kilat melalui jendela pesawat ulang alik.

Aldrin lalu memutar arah kameranya ke dalam pesawat. Dalam rekaman yang setelahnya kita saksikan, Neil Armstrong terlihat bahagia. Ia berputar naik-turun di ruang hampa.

Empat hari setelah itu, mereka tiba pada titik paling berbahaya dalam misi tersebut.

Batuan besar berbahaya

Di tengah persoalan komputer dalam pesawat, Armstrong mengendalikan Eagle secara manual. Kapal kecil untuk pendaratan di bulan itu disetirnya dengan tenang untuk menghindari bebatuan dan kawah besar di permukaan bulan.

Buzz Aldrin lalu mengucapkan kalimat pertama yang dituturkan manusia di dunia yang lain.

"Lampu kontak. Oke, mesin berhenti..."

Armstrong mengkonfirmasi kegelisahan yang ingin didengar orang-orang di ruang kontrol Badan Antariksa AS (NASA).

"Houston, di sini Tranquility Base (suatu kawasan pendaratan mereka di bulan). Eagle telah mendarat."

Apapun zona waktunya, seluruh warga dunia kagum menyaksikan peristiwa itu. Sekitar 600 juta orang menonton gambar gelap yang kabur yang disiarkan secara langsung tersebut.

Di Inggris, pagi-pagi betul anak-anak bangun untuk melihat Armstrong muncul dari pesawat kecil yang baru saja mendarat di bulan. Setelah beberapa saat, dia melangkah keluar sambil mengucapkan kata-kata yang akan bergema sepanjang sejarah.

"Ini adalah langkah kecil bagi seorang laki-laki, tapi lompatan besar bagi umat manusia," ujarnya.

Tiga astronot itu lalu menancapkan bendara AS. Saat Armstrong membaca plat yang dia tanamkan di permukaan bulan, jelas sudah pencapaian umat manusia.

"Kami datang dalam damai untuk semua manusia," kata Armstrong.

Kalimat tersebut merupakan sentimen yang diekspresikan Presiden AS kala itu, Richard Nixon, saat ia berbicara kepada tiga awak Apollo 11 di ruang kerjanya di White House.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved