Jumat, 10 April 2026

Apollo 11: Kisah bagaimana proyek luar angkasa menyatukan umat manusia

Program pengiriman manusia ke luar angkasa bermula dari konflik dan perang. Namun proyek itu justru terus menginspirasi dunia untuk bersatu

Seolah-olah diterangi cahaya ilahi, roket Saturn V berkilauan saat berada di papan luncur di Cape Canaveral, Florida.

Dihiasi simbol bintang serta garis, diselubungi cahaya subuh berwarna emas dan merah tua, roket itu terlihat ibarat lagu kebangsaan Amerika Serikat.

Dalam pakaian luar angkasa mereka, tiga astronaut bersiap menjalani misi yang akan membawa mereka dan seluruh umat manusia ke sebuah peradaban baru.

Usaha keras yang muncul dalam konflik menegangkan ini diakhiri dengan menyatukan seluruh warga dunia, setidaknya untuk sesaat.

Perlombaan berangkat ke bulan mulai terjadi pada 4 Oktober 1957, ketika Uni Soviet mengirim satelit buatan pertama ke jalur orbit bumi. Gelora bunyi satelit bernama Sputnik 1 itu menyebar teror ke seluruh penjuru Amerika Serikat.

Ada kekhawatiran bahwa musuh AS dalam Perang Dingin itu bakal segera menjatuhkan bom atom dari luar angkasa.

Ancaman terhadap eksistensi

Ketika Soviet mengirim astronaut pertama untuk mengorbit bumi dan menjejakkan kaki di luar angkasa, pemerintahan AS takut bahwa dominasi teknologi negara komunis akan menunjukkan keunggulan ideologi itu.

AS kala itu menghadapi ancaman nyata atas prinsip dasar kehidupan mereka.

Pada 1961, Presiden AS John F Kennedy merespons Soviet dengan mengumumkan rencananya mengirim astronaut ke bulan.

Setahun kemudian, di Universitas Rice, Houston, dengan gemilang dan gagah berani seperti dewa matahari, nama Apollo disematkan pada program luar angkasa itu,

Kennedy membakar semangat bangsanya.

"Kita memutuskan untuk pergi ke bulan dalam dekade ini dan melakukan hal-hal lain, bukan karena itu mudah, melainkan karena itu pekerjaan berat.

Karena cita-cita itu akan mendorong kita mengelola dan mengukur daya dan keterampilan terbaik kita,

Karena tantangan itu adalah yang kita terima, yang tidak ingin kita tunda, yang ingin kita menangkan, dan oleh manusia-manusia lainnya," kata Kennedy dalam pidatonya.

Tujuh tahun setelah itu, Neil Armstrong, Edwin 'Buzz' Aldrin, dan Mike Collins duduk di kursi mereka menuju Bulan.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved