Mengapa mata uang Cina merosot dan apa dampaknya bagi perdagangan Indonesia?
Penurunan yuan berpotensi menyebabkan dampak luas bagi negara-negara lain, termasuk perdagangan Indonesia, dan juga perang dagang antara Amerika
Melemahnya yuan juga akan membuat impor ke China lebih mahal, berpotensi mendongkrak inflasi dan memberikan tekanan lebih lanjut kepada ekonomi yang memang sudah melambat, dan sekaligus mendorong para pemegang mata uang untuk menggunakan uangnya membeli aset-aset lain.
Bagaimana dampaknya bagi perdagangan Indonesia?
Karena perdagangan antar regional kuat, pelemahan mata uang Cina juga diikuti oleh penurunan mata uang negara-negara mitra dagangnya, tak terkecuali rupiah, karena munculnya sentimen negatif.
Kepala Ekonom di Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih, mencatat dampak nyata dari penurunan mata uang China bagi Indonesia jika penurunan berlangsung lama adalah sektor perdagangan, baik dampak menguntungkan maupun merugikan.
"Kalau kita melihat dari rasio antara rupiah-yuan, rupiah-dolar yang akhirnya sebetulnya rupiah itu melemah terhadap yuan juga, sebetulnya positif bagi kita karena barang Indonesia menjadi lebih murah buat importir China," jelasnya dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir, pada Rabu (07/08).
Namun sayangnya ada faktor yang tidak mendukung analogi tersebut sebab sebagian besar ekspor Indonesia ke China berupa komoditas.
"Karena harga komoditas sekarang sedang turun. Jadi katakanlah nilai rupiah melemah terhadap yuan atau terhadap dolar Amerika, tetapi harga juga turun di saat yang sama, nettonya di mana?
"Ketika harga turunnya lebih besar daripada depresiasi rupiah maka kita tidak diuntungkan," terang Lana Soelistianingsih.
Di antara komoditas Indonesia yang dikirim ke China adalah batu bara, tembaga dan minyak kelapa sawit.
Sementara itu, ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi berpendapat dampak negatif dari penurunan mata uang China terhadap perekonomian Indonesia tidak terlalu signifikan, meskipun untuk jangka pendek patut diwaspadai.
"Devaluasi yuan akan membawa efek rombongan bagi mata uang regional, terutama di Asia, yang mana cenderung lebih menekan atau terdepresiasi. Jadi rupiah juga akan terbawa arus itu," kata Fithra Faisal Hastiadi.
Apakah penurunan yuan seperti ini pernah terjadi?
Ya. Pada tahun 2015, bank sentral China merendahkan nilai mata uangnya ke tingkat terendah terhadap dolar AS dalam tempo tiga tahun, antara lain untuk menekan laju pertumbuhan ekonomi. Bank sentral mengatakan tindakan itu diambil untuk mendukung reformasi pasar.
Yuan terakhir kali diperdagangkan pada angka tujuh terhadap dolar AS adalah ketika terjadi krisis keuangan global.
Ekonom di Capital Economics, Julian Evans-Pritchard mengatakan China telah lama berpendirian bahwa 'level tujuh yuan per satu dolar AS' merupakan ambang batas semaunya, "tetapi sebelumnya turun tangan untuk mencegah mata uang merosot di bawah ambang batas".
Mengapa penurunan yuan membuat AS gusar?
Membuat harga barang-barang China lebih kompetitif menyerang inti masalah perang dagang AS-China yang dikobarkan oleh Presiden Trump.
Presiden AS itu telah lama menuduh China menurunkan mata uangnya untuk mendorong ekspor, tetapi Beijing menepisnya.
Meskipun mengaitkan kemerosotan terbaru yuan dengan perang dagang, China terus menyatakan tidak akan melibatkan diri dalam "devaluasi kompetitif".