Brexit: Tujuh hal menyangkut ketidakjelasan nasib Inggris keluar dari Uni Eropa
Inggris hanya mempunyai waktu kurang dari dua bulan sebelum dijadwalkan keluar dari organisasi kerja sama Uni Eropa, namun jalan menuju ke pintu
Inggris hanya mempunyai waktu kurang dari dua bulan sebelum dijadwalkan keluar dari organisasi kerja sama Uni Eropa pada tanggal 31 Oktober, namun jalan menuju ke pintu keluar tersebut penuh rintangan.
Selasa (03/09) merupakan hari pertama masa sidang Parlemen Inggris setelah reses musim panas, tetapi masa sidang yang tersisa sangat terbatas karena Perdana Menteri Boris Johnson memutuskan membekukan parlemen mulai 9 September hingga 14 Oktober.
Apa saja yang kemungkinan bisa terjadi?
- Bagaimana fenomena Brexit mengubah bahasa Inggris
- Boris Johnson, Perdana Menteri baru Inggris: 'Selesaikan Brexit dan satukan negara'
- Boris Johnson menjadi PM Inggris dengan dukungan suara kurang dari 0,34% pemilih
Brexit tanpa kesepakatan pada 31 Oktober
Inggris ditetapkan akan secara resmi menarik diri dari organisasi kerja sama Uni Eropa, atau proses yang disebut Brexit, pada tanggal 31 Oktober.
Brexit seharusnya disertai dengan kesepakatan dengan Uni Eropa untuk mengatur hubungan dalam berbagai bidang antara Inggris dengan organisasi negara-negara Eropa.
Meskipun Perdana Menteri Boris Johnson telah menyatakan ia menghendaki kesepakatan baru dengan Uni Eropa sehubungan dengan syarat-syarat Brexit, ia berjanji bahwa Brexit akan benar-benar terjadi pada tanggal 31 Oktober, sekalipun tidak disertai dengan kesepakatan.
Jika Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan maka Inggris akan serta merta keluar dari kerangka kerja sama bea cukai bersama dan pasar tunggal. Pengaturan itu dimaksudkan untuk memudahkan perdagangan.
Brexit tanpa kesepakatan, menurut banyak politikus dan pengusaha, akan merusak perekonomian. Sebagian pihak lain berpendapat risiko Brexit tanpa kesepakatan terlalu dilebih-lebihkan.
Anggota parlemen mengendalikan Parlemen untuk mencegah Brexit tanpa kesepakatan
Para anggota parlemen telah mengikuti pemungutan suara lebih dari sekali untuk menunjukkan penolakan terhadak Brexit tanpa kesepakatan. Kini partai-partai oposisi dan sejumlah anggota Partai Konservatif berusaha meloloskan undang-undang untuk mencegah Brexit tanpa kesepakatan.
Namun dengan dibekukannya Parlemen Inggris mulai Senin (09/09), para anggota parlemen hanya mempunyai waktu terbatas.
Pertama-tama mereka harus mampu menguasai jadwal parlemen. Ini yang menjadi agenda perdebatan pada Senin (03/09).
Mereka kemudian berusaha untuk meloloskan undang-undang baru yang berisi permintaan kepada pemerintah untuk meminta Uni Eropa menunda Brexit sampai tanggal 31 Januari 2020.
Rancangan undang-undang ini dapat dibahas di Majelis Rendah Parlemen Inggris pada Rabu (04/09), dan kemudian dibawa ke Majelis Tinggi pada Kamis (05/09).
Jika disahkan, RUU itu disetujui Ratu Elizabeth dan diundangkan pada tanggal 9 September.
Mosi tidak percaya