PM Benjamin Netanyahu berjanji akan memperluas kedaulatan Israel dengan mencaplok Lembah Yordania
Perdana menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berjanji memperluas kedaulatan negaranya ke bagian Tepi Barat yang diduduki sejak perang 1967.
Erekat mencuit: "Kita perlu mengakhiri konflik dan bukan membuatnya berlanjut hingga 100 tahun lagi, seperti yang direncanakan Netanyahu. Ingat, pencaplokan wilayah di bawah hukum internasional adalah bentuk kejahatan perang."
Apa latar belakang masalah di Tepi Barat?
Israel menduduki Tepi Barat, selain Yerusalem Timur, Gaza, dan Dataran Tinggi Golan Suriah, pada perang Timur Tengah tahun 1967. Mereka secara efektif mencaplok kawasan Yerusalem Timur pada tahun 1980 dan Dataran Tinggi Golan pada 1981, meski kedua aksi itu tidak diakui dunia internasional selama berpuluh tahun.
Akan tetapi, kemudian pmerintahan Trump mengakui kedua aksi tersebut, dan membatalkan kebijakan AS sebelumnya.
Nasib kawasan Tepi Barat tergantung pada akhir dari konflik Israel-Palestina. Sementara, Israel telah membangun 140 permukiman warga di sana dan Yerusalem Timur yang mana dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional, meskipun Israel membantahnya.
Akankah Netanyahu memenangi pemilu?
Ini adalah pemilu kedua dalam enam bulan terakhir dan jajak pendapat menunjukkan jumlah suara yang mirip dengan hasil pemilu April lalu, di mana setelahnya, tidak ada koalisi yang dapat dibentuk.
Partai Likud dan Partai Biru dan Putih sama-sama memenangkan 35 dari 120 kursi parlemen yang diperebutkan.
Netanyahu berharap dapat membangun koalisi dan kembali duduk di kursi perdana menteri untuk kelima kalinya.
Akan tetapi, perselisihan tentang RUU wajib militer yang mengatur pembebasan kewajiban bagi siswa seminari Yahudi ultra-Ortodoks tidak dapat diselesaikan, berakibat dibubarkannya parlemen pada bulan Mei lalu.
Kemungkinan pembicaraan koalisi pascapemilu akan kembali dilakukan dan bisa berlangsung selama berminggu-minggu.