Senin, 18 Mei 2026

Kisah perempuan yang dipotong tangannya dan perlawanan terhadap KDRT di Rusia

Dua tahun lalu, Rusia meloloskan undang-undang yang mengurangi hukuman terhadap pelaku KDRT. Banyak pihak yang terkejut, dan perlawanan kini

Tayang:

Margarita menerbitkan buku tentang pemulihannya, berjudul Happy Without Hands, Bahagia tanpa Tangan, tapi ia kini sangat menghindari publikasi.

Margarita Gracheva saat di rumah sakit.
Margarita Gracheva
Margarita Gracheva saat di rumah sakit.

"Ironisnya, agar dia bisa dapat hukuman berat, saya butuh bantuan media," kata Margarita.

Gunung es KDRT di Rusia

Pengacaranya mengatakan, jika Margarita tidak tampil di TV, suaminya mungkin dihukum ringan tiga sampai lima tahun. Tekanan publik penting untuk kasus ini. Margarita akhirnya ikut nasehat pengacaranya, dan Dmitri akhirnya dijatuhi hukuman 14 tahun penjara.

Short presentational grey line
BBC

Kisah Margarita ini bagai puncak gunung es dari KDRT di Rusia. Perkiraan konservatif menyebut ratusan perempuan meninggal setiap tahun akibat KDRT di Rusia.

Para pegiat beranggapan persoalan KDRT memasuki fase krisis di Rusia, dan dua peristiwa penting belakangan ini menimbulkan gelombang protes di banyak kota di sana.

Pertama adalah UU tahun 2017 yang menurunkan derajat KDRT dari 'perbuatan kriminal' ke 'perilaku buruk' bagi pelaku KDRT pertama kali, sepanjang korbannya tidak memerlukan perawatan rumah sakit.

Kedua adalah potensi hukuman penjara jangka panjang terhadap tiga bersaudari yang membunuh ayah mereka bulan Juli 2018 disebabkan sang ayah telah melakukan KDRT terhadap mereka.

Sang ayah, Mikhail Khachaturyan mengusir istirnya dengan todongan senjata tahun 2015, lalu ia melakukan kekerasan terhadap ketiga anak perempuannya.

Sang ibu Aurelia Dunduk, bercerita: "Ia menyiksa mereka setiap malam, mereka tak bisa tidur".

"Ia punya bel dan mereka harus datang saat dipanggil dengan bel itu, untuk melakukan apa saja yang ia suka. Anak-anak ini sangat menderita."

Krestina dan Angelina Khachaturyan di pengadilan.
Getty Images
Krestina dan Angelina Khachaturyan di pengadilan.

Maka suatu malam saat Khachaturyan tidur di kursi di rumahnya, putri tertuanya, Krestina, 19 tahun, menyemprot sang ayah dengan semprotan merica. Lalu adiknya Maria, 17 tahun, menikam dengan pisau berburu, dan adiknya yang satu lagi, Angelina menghantam kepala sang ayah dengan martil.

"Mereka membela diri, mereka tak punya pilihan," kata si ibu.

Desakan publik membuat mereka dibebaskan dari tahanan sementara menunggu sidang pengadilan. Petisi dibuat untuk meminta pembebasan mereka, dan sudah mencapai 300.000 tanda tangan.

Protes di Moskow agar melawan KDRT.
Getty Images
Protes di Moskow agar melawan KDRT.

Demonstrasi di St. Petersburg dengan poster
Getty Images
Demonstrasi di St. Petersburg dengan poster "Tubuhku bukan medan pertempuran".

Sangat sedikit politisi yang berupaya melawan KDRT, salah satunya adalah Oksana Pushkina. Ia anggota partai Vladimir Putin, United Russia, tapi kemudian menjadi pemberontak karena tak tahan terhadap KDRT.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved