Kisah perempuan yang dipotong tangannya dan perlawanan terhadap KDRT di Rusia
Dua tahun lalu, Rusia meloloskan undang-undang yang mengurangi hukuman terhadap pelaku KDRT. Banyak pihak yang terkejut, dan perlawanan kini
Margarita menerbitkan buku tentang pemulihannya, berjudul Happy Without Hands, Bahagia tanpa Tangan, tapi ia kini sangat menghindari publikasi.
"Ironisnya, agar dia bisa dapat hukuman berat, saya butuh bantuan media," kata Margarita.
Gunung es KDRT di Rusia
Pengacaranya mengatakan, jika Margarita tidak tampil di TV, suaminya mungkin dihukum ringan tiga sampai lima tahun. Tekanan publik penting untuk kasus ini. Margarita akhirnya ikut nasehat pengacaranya, dan Dmitri akhirnya dijatuhi hukuman 14 tahun penjara.
Kisah Margarita ini bagai puncak gunung es dari KDRT di Rusia. Perkiraan konservatif menyebut ratusan perempuan meninggal setiap tahun akibat KDRT di Rusia.
Para pegiat beranggapan persoalan KDRT memasuki fase krisis di Rusia, dan dua peristiwa penting belakangan ini menimbulkan gelombang protes di banyak kota di sana.
Pertama adalah UU tahun 2017 yang menurunkan derajat KDRT dari 'perbuatan kriminal' ke 'perilaku buruk' bagi pelaku KDRT pertama kali, sepanjang korbannya tidak memerlukan perawatan rumah sakit.
Kedua adalah potensi hukuman penjara jangka panjang terhadap tiga bersaudari yang membunuh ayah mereka bulan Juli 2018 disebabkan sang ayah telah melakukan KDRT terhadap mereka.
Sang ayah, Mikhail Khachaturyan mengusir istirnya dengan todongan senjata tahun 2015, lalu ia melakukan kekerasan terhadap ketiga anak perempuannya.
Sang ibu Aurelia Dunduk, bercerita: "Ia menyiksa mereka setiap malam, mereka tak bisa tidur".
"Ia punya bel dan mereka harus datang saat dipanggil dengan bel itu, untuk melakukan apa saja yang ia suka. Anak-anak ini sangat menderita."
Maka suatu malam saat Khachaturyan tidur di kursi di rumahnya, putri tertuanya, Krestina, 19 tahun, menyemprot sang ayah dengan semprotan merica. Lalu adiknya Maria, 17 tahun, menikam dengan pisau berburu, dan adiknya yang satu lagi, Angelina menghantam kepala sang ayah dengan martil.
"Mereka membela diri, mereka tak punya pilihan," kata si ibu.
Desakan publik membuat mereka dibebaskan dari tahanan sementara menunggu sidang pengadilan. Petisi dibuat untuk meminta pembebasan mereka, dan sudah mencapai 300.000 tanda tangan.
Sangat sedikit politisi yang berupaya melawan KDRT, salah satunya adalah Oksana Pushkina. Ia anggota partai Vladimir Putin, United Russia, tapi kemudian menjadi pemberontak karena tak tahan terhadap KDRT.