Baca '100.000 kata dalam lima menit': Apakah anak China dapat menguasai metode kuantum ini?
Biaya kursus metode 'kuantum' dapat mencapai US$14.000 atau Rp197 juta, tetapi efektivitasnya dipertanyakan pada ahli pendidikan.
Pembaca tercepat di dunia menurut Guinness Book of Records adalah Howard Berg dari Amerika Serikat, dengan kecepatan membaca 25.000 kata per menit.
Sekarang berbagai kursus di China menjanjikan cara yang dapat membuat anak mampu bersaing.
Mereka menyatakan dapat mengajarkan anak membaca 100.000 kata dalam lima menit.
Tetapi kursus yang menawarkan teknik "baca cepat kuantum" ini mengundang kontroversi, setelah sebuah video yang memperlihatkan murid membaca dengan cepat, membalikkan halaman pada perlombaan baca-cepat di Beijing, menjadi viral.
- Inggris minta China membuka akses PBB ke Xinjiang setelah dokumen ungkap 'cuci otak' Muslim Uighur
- Dokumen rahasia ungkap cara China 'mencuci otak' Muslim Uighur di kamp-kamp penjara
- TPA terbesar di China penuh 25 tahun lebih cepat
Penyelidikan
Pada perlombaan tersebut, para murid "membaca" buku seperti mengocok kartu.
Pendukung metode ini mengatakan dengan membalikkan halaman secara cepat, gambar yang muncul di otak pembaca membantu mereka untuk memahami isinya.
Meskipun demikian para pengecamnya mengatakan kursus ini adalah sebuah "penipuan" dan menggambarkan metodenya sebagai "ilmu palsu".
Pejabat pendidikan setempat juga bertindak: Kantor Pendidikan Shenzhen mengeluarkan pernyaaan permulaan bulan ini terkait dengan pelarangan bagi murid sekolah dasar dan menengah untuk mengikuti kursus baca cepat kuantum.
Mereka kemudian menyelidiki para penyelenggara kursus.
- Ujian sekolah yang menimbulkan korban jiwa di berbagai negara dunia karena siswa yang 'stres'
- 'Penyontek' ujian di Cina diancam hukuman penjara
- Murid Cina dilarang teriak dan merusak buku pelajaran
Kekhawatiran tertinggal
Sejumlah ahli pendidikan mengatakan pelatihan seperti ini tidak berdasar dan menyesatkan. Tetapi kursus ini menjadi populer karena berbagai alasan.
Kekhawatiran tertinggal, rendahnya melek ilmu dan kurang memadainya peraturan membuat kursus ini menarik perhatian orang tua dan murid di China yang ingin berhasil secara akademis.
Baca cepat kuantum dikembangkan guru Jepang Yumiko Tobitani yang menerbitkan sebuah buku tentang metode ini pada tahun 2006.