Kamis, 9 April 2026
Deutsche Welle

Pemakan Bakteri dari Georgia untuk Melawan Resistensi Antibiotik

Apa yang harus kita lakukan ketika antibiotik tidak lagi efektif? Pasien dari seluruh dunia datang ke Georgia untuk mendapatkan perawatan…

Tanja Diederen tinggal di dekat kota Maastricht, Belanda. Dia menderita penyakit Hidradenitis Suppurativa selama 30 tahun. Ini adalah penyakit kulit kronis di mana akar rambut mengalami peradangan dan menimbulkan rasa sakit, seringnya di daerah sekitar ketiak dan dada.

Rp 62 juta untuk perawatan di Georgia

Pada Agustus 2019, Diederen yang sekarang berusia 50 tahun membuat keputusan penting. Ia menghentikan penggunaan antibiotik yang semakin tidak efektif. Lalu Diederen pergi ke Georgia selama dua minggu untuk menjalani pengobatan dengan menjalani terapi bakteriofag (disingkat fag).

Terapi fag yang dilakukan Diederen belum disetujui di sebagian besar negara-negara Eropa Barat. Ia harus merogoh kocek pribadi sebbesar € 3.900 atau senilai Rp 62 juta dengan harapan bahwa terapi tersebut dapat menyembuhkan penyakitnya.

Bakteriofag adalah virus yang menyerang proliferasi bakteri inang mereka. Terapi ini menggunakan tipe fag tunggal yang diisolasi yang kemudian dikonsumsi secara oral. Untuk dapat bertahan hidup, fag kemudian menempel kepada sesama bakteri yang terdapat di dalam tubuh pasien.

Fag membalik polaritas bakteri yang ia hinggapi sedemikian rupa, sehingga memproduksi fag lebih banyak terus menerus hingga akhirnya si bakteri meledak. Kemudian, fag-fag yang dilepaskan menempel pada bakteri lain hingga pada akhirnya semua bakteri hancur.

Baca juga: Ancaman Maut Infeksi Nosokomial dengan Bakteri Multiresisten

Pergi ke Georgia

"Rasanya agak seperti jamur," terang Tanja Diederen ketika dia hendak mengkonsumsi fag di jadwal paginya. "Ketika saya pergi ke Georgia, perasaan saya campur aduk, gugup dan bersemangat. Di atas semua itu, saya sangat kecewa dengan perawatan di Belanda."

Setelah antibiotik tidak efektif bagi Diederan, dokternya kala itu menyarankan agar ia mengkonsumsi obat biofarmasi, yakni obat rekayasa genetika. Dia pun belum pernah mendengar tentang terapi bakteriofag.

Akhirnya, Diederen memutuskan untuk mencari pilihan pengobatan lain sendiri. Hingga ia memutuskan memilih terapi bakteriofag, yang dia ketahui dari sebuah program televisi.

Merasa lebih baik

Dia mendatangi Georgi-Eliava Institute di Georgia, yang telah meneliti bakteriofag sejak tahun 1923, hanya beberapa tahun setelah ditemukannya fag. Georgia kemudian berkembang menjadi pusat global terapi fag.

Selama Perang Dingin, antibiotik sangat sulit didapat dimana-mana. Pengobatan dengan fag adalah cara terbaik untuk menyembuhkan penyakit menular. Saat ini, Eliava Institute pun menjadi salah satu pusat terapi fag terbesar di dunia.

Tanja Diederen menjalani perawatan selama dua minggu, setelah itu ia kembali ke Belanda dengan membawa sebuah koper besar yang berisi penuh bakteriofag. Semenjak ia mengkonsumsi dua jenis fag berbeda setiap harinya, dan mengoleskan krim, Diederen pun merasa lebih baik.

Dia merasa energinya pulih dan radang kecil yang ada di dada dan ketiaknya semakin membaik. Peradangan besar kadang muncul dan hilang, tetapi tidak separah sebelum ia menjalani terapi ini.

"Tidak terasa ilegal bagi saya"

Setiap tiga bulan sekali Diederen pergi ke Belgia, 15 kilometer dari Maastricht, untuk mengambil jatah bakteriofag baru yang dikirim dari Georgia seharga 500 euro atau setara dengan 8 juta rupiah. Asuransi kesehatan Diederen tidak menanggung ini. Belgia adalah satu-satunya negara di Eropa Barat yang mengizinkan penggunaan fag. Di Belanda dan di semua negara lain, fag hanya dapat digunakan dalam kasus perseorangan untuk menyelamatkan nyawa atau meredakan rasa sakit yang begitu parah.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved