Bentrokan Pecah saat Malam Natal di Hong Kong, Polisi Tembakkan Gas Air Mata ke Demonstran

Aksi demonstrasi saat ini sudah memasuki bulan ketujuh. Unjuk rasa damai yang dilakukan pada awal bulan ini berhasil menarik 800.000 orang

CHANNEL NEWS ASIA
Demonstran berusaha mencari tempat yang lebih aman setelah polisi Hong Kong membuat barikade di gerbang utama kompleks kampus Hong Kong Polytechnic University, Senin (18/11/2019) pagi. 

TRIBUNNEWS.COM, HONG KONG - Polisi anti huru hara Hong Kong menembakkan gas air mata ke ribuan pengunjuk rasa.

Hal itu dilakukan setelah terjadi bentrokan di pusat perbelanjaan dan di kawasan wisata utama ketika demonstrasi anti-pemerintah meningkat menjadi aksi kekacauan pada Malam Natal.

Para pengunjuk rasa di dalam mal telah melemparkan payung dan benda-benda lain ke polisi yang menanggapinya dengan memukuli beberapa demonstran dengan tongkat.

Kemudian, satu orang polisi mengarahkan senjatanya ke arah kerumunan, tetapi tidak menembak.

Pengunjuk rasa telah menduduki jalan utama di luar mal dan hotel-hotel mewah yang berada di dekatnya, termasuk Peninsula. Untuk membubarkan aksi demonstrasi, polisi akhirnya menembakkan gas air mata.

Padahal, banyak keluarga dengan anak-anak berkumpul di area yang sama untuk melihat lampu Natal di sepanjang kawasan pejalan kaki di kawasan wisata Tsim Sha Tsui East, Kowloon, latar belakang pulau Hong Kong yang spektakuler di seberang pelabuhan.

Baca: 6 Pasar Malam di Hong Kong yang Cocok Dikunjungi saat Libur Natal

Baca: Tertangkap Bawa Sabu di Bali, Dua WNA Hong Kong Terancam Hukuman Mati

Aksi demonstrasi saat ini sudah memasuki bulan ketujuh. Unjuk rasa damai yang dilakukan pada awal bulan ini berhasil menarik 800.000 orang.

Hal ini menunjukkan dukungan kuat warga Hong Kong untuk gerakan itu.

Puluhan orang berpakaian hitam dan topeng meneriakkan slogan-slogan seperti "Bangkitlah Hong Kong, revolusi zaman kita" dan "kemerdekaan Hong Kong" saat mereka masuk ke dalam mal-mal.

“Banyak orang berbelanja sehingga ini adalah kesempatan yang baik untuk menyebarkan pesan dan memberi tahu orang-orang tentang apa yang kami perjuangkan,” kata Ken, seorang siswa berusia 18 tahun.

Halaman
12
Editor: Sanusi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved