Virus Corona

Mulai Akhir Maret 2020, Jepang Hanya Butuh Waktu 15 Menit Per Orang untuk Deteksi Virus Corona

Mulai akhir Maret 2020, Jepang sudah bisa mendeteksi virus corona hanya dalam waktu 15 menit saja per orang.

Mulai Akhir Maret 2020, Jepang Hanya Butuh Waktu 15 Menit Per Orang untuk Deteksi Virus Corona
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Peta korban terinfeksi virus corona Covid-19 di Jepang, Jumat (14/2/2020). 

Laporan Koresponden ‪Tribunnews.com‬, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Mulai akhir Maret 2020, Jepang sudah bisa mendeteksi virus corona hanya dalam waktu 15 menit saja per orang.

"Sementara sedang terburu-buru untuk memeriksa kapal pesiar, kami telah meningkatkan kapasitas pemrosesan harian menjadi sekitar 1.100 dengan kerja sama perusahaan swasta dan universitas. Alat deteksi yang dapat menentukan ada atau tidaknya virus dalam waktu 15 menit akan diperkenalkan pada akhir Maret 2020," ungkap sumber Tribunnews.com, Sabtu (15/2/2020).

Para ahli semakin waspada bahwa virus corona akan "memasuki fase baru," menyerukan deteksi dini kasus parah dan perlunya pengobatan yang tepat.

Baca: Belum Reda Virus Corona, Muncul Jenis Virus Baru Jauh Lebih Mematikan, Hanya 48 Jam Buat Membunuh

Baca: Berjatuhan Korban Meninggal Virus Corona di Asia, Benarkah Indonesia Masih Aman? WHO Ungkap Faktanya

Dengan lebih dari 3.600 penumpang dan semakin banyak orang yang terinfeksi di kapal pesiar Diamond Princess, para ahli mempertanyakan apakah inspeksi domestik dan sistem medis sudah cukup?

"Penting untuk mencegah infeksi pada orang lanjut usia yang sakit dan mereka yang memiliki penyakit kronis. Banyak pasien sakit ringan dirawat di rumah seperti dalam kasus influenza dan tidak menyebarkan infeksi. Sudah waktunya untuk memisahkan mereka," ungkap Kazuhiro Tateda, Ketua Masyarakat Jepang untuk Penyakit Menular.

Takeda mengakui adanya perubahan fase baru tersebut dan tampak sekali penyebaran virus corona di dunia.

"Tidak ada kontak dengan pasien pneumonia, menunjukkan bahwa penularan berbasis komunitas sangat dicurigai setelah serangkaian penularan dari manusia ke manusia," ujarnya.

Infeksi seorang wanita berusia 80-an di Perfektur Kanagawa dikonfirmasi setelah kematiannya pada tanggal 13 Februari 2020.

Baca: Teddy Ngotot Beri Bantahan, Mertua Kasih Bukti Telak Suami Lina Pinjam Uangnya untuk Beli Mas Kawin

Baca: Media Asing Soroti Mahalnya Harga Masker di Indonesia, Lebih Mahal Ketimbang Emas

Namun, ia telah menunjukkan gejala awal seperti malaise (tidak enak badan) sejak 22 Januari, dan mungkin telah terinfeksi di pertengahan bulan yang sama (Januari) sebelum bandara di Wuhan, Provinsi Hubei ditutup.

Orang yang terinfeksi di Jepang tersebar di 11 prefektur kecuali untuk pesawat sewaan dan kapal pesiar.

Halaman
12
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved