Minggu, 31 Agustus 2025

Konflik Palestina Vs Israel

Hubungan Erdogan–Netanyahu Runtuh: Turki Stop Perdagangan, Tutup Wilayah Udara Pelabuhan Bagi Israel

Turki tutup wilayah udara, pelabuhan sekaligus memutus hubungan perdagangan secara penuh dengan Israel, bentuk protes atas genosida yang dialami Gaza

Faceboook PM Israel
NETANYAHU BERPIDATO - Foto ini diambil dari Faceboook PM Israel pada Senin (16/6/2025), memperlihatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Minggu (15/6/2025). Pemerintah Turki resmi tutup wilayah udara, pelabuhan sekaligus memutus hubungan perdagangan secara penuh dengan Pemerintahan Netanyahu, bentuk protes atas genosida yang dialami Gaza 

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Turki resmi menutup wilayah udara, pelabuhan bagi Israel, sekaligus memutus hubungan perdagangan secara penuh dengan Tel Aviv.

Keputusan ini diumumkan langsung oleh Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dalam sidang luar biasa parlemen akhir pekan ini, sebagai bentuk protes terhadap perang yang masih dilakukan militer Israel kepada warga Gaza.

Dalam keterangan resmi yang dikutip dari Al Jazeera,Fidan menegaskan bahwa negaranya tidak lagi mentolerir kebijakan militer Israel yang disebut sebagai bentuk genosida terhadap warga Palestina.

“Kami telah sepenuhnya memutus perdagangan dengan Israel. Kami tidak mengizinkan kapal-kapal Israel berlabuh di pelabuhan Turki. Kami juga menutup wilayah udara kami untuk seluruh pesawat Israel,” ujar Fidan, menegaskan sikap Ankara.

Latar Belakang Pemutusan Hubungan

Langkah tegas ini bukan kali pertama dilakukan Turki. Pada Mei 2024, Ankara telah menghentikan perdagangan langsung dengan Israel, menuntut gencatan senjata permanen dan akses bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Padahal, di tahun 2023, nilai perdagangan kedua negara mencapai 7 miliar dolar AS, menjadikan Turki salah satu mitra penting bagi perekonomian Israel.

Namun, menurut Fidan, sikap Israel yang terus melakukan serangan di Gaza dan wilayah Timur Tengah telah menimbulkan ancaman serius, tidak hanya bagi Palestina tetapi juga bagi stabilitas kawasan.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, bahkan menyamakan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dengan Adolf Hitler karena kebijakan militernya yang dianggap brutal.

Analis politik Al Jazeera, Resul Serdar, menilai keputusan Turki bukan sekadar respons kemanusiaan, melainkan juga persoalan keamanan nasional.

“Turki semakin memandang Israel sebagai ancaman, terutama terkait serangan-serangan militernya di Suriah yang dianggap menghambat upaya pemulihan negara tersebut pasca perang saudara,” jelas Serdar.

Ia juga menambahkan bahwa jika Israel tidak dihentikan, kemungkinan terjadi konfrontasi militer langsung antara Ankara dan Tel Aviv bisa menjadi kenyataan.

Dampak Bagi Israel

Kebijakan Turki memberikan tekanan besar bagi Israel, terutama karena Turki selama ini menjadi pasar strategis serta destinasi wisata favorit bagi warga Israel.

Analis politik Israel, Akiva Eldar, menilai keputusan ini membuat warganya merasa semakin terisolasi di panggung internasional.

“Turki bukan sekadar negara lain. Ini adalah sekutu lama sekaligus pasar besar bagi Israel. Langkah ini membuat orang Israel merasa semakin seperti paria, ditinggalkan oleh dunia,” ujar Eldar.

Dengan pemutusan total perdagangan sejak Mei 2024, Israel kini kehilangan salah satu mitra dagang terbesar di kawasan.

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan