Virus Corona

Nagasaki dan Canon Jepang Ciptakan Deteksi Gen Virus Corona, Bisa Mendeteksi Dalam Waktu 10 Menit

Sebuah sistem pengujian yang mampu mendeteksi gen coronavirus baru dalam waktu sekitar 10 menit dikembangkan oleh kelompok Prof Jiro Yasuda.

Nagasaki dan Canon Jepang Ciptakan Deteksi Gen Virus Corona, Bisa Mendeteksi Dalam Waktu 10 Menit
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Alat yang dipakai untuk mendeteksi gen Corona Virus dalam waktu hanya 10 menit. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Sebuah sistem pengujian yang mampu mendeteksi gen coronavirus baru dalam waktu sekitar 10 menit dikembangkan bersama oleh kelompok Prof Jiro Yasuda dari Universitas Nagasaki diumumkan baru-baru ini.

"Kami menggunakan LAM neon, salah satu metode amplifikasi gen. Ketika sensitivitas dan kecepatan diverifikasi menggunakan sampel yang dikumpulkan dari orang yang terinfeksi, dimungkinkan untuk mendeteksi dalam waktu 10 menit atau selambatnya 15 menit gen virus terdeteksi dalam satu sampel. Virus SARS paling mirip tidak terdeteksi, dan spesifisitas tinggi juga dikonfirmasi," kata Prof Jiro Yasuda.

Saat ini, tes PCR di Jepang membutuhkan 5 hingga 6 jam termasuk pretreatment untuk mengekstraksi gen virus dari sampel.

Sistem ini dapat diperiksa dengan akurasi yang sama dengan metode PCR dalam waktu 40 menit termasuk pretreatment.

Di tingkat laboratorium, telah dipastikan bahwa itu dapat dideteksi bahkan dengan pretreatment yang lebih sederhana dari sebelumnya, dan diharapkan tes yang lebih cepat dapat diharapkan.

Kekuatannya adalah ukurannya A4, sekitar 2 kg dan ringan dan dapat digunakan di lokasi medis dan pulau-pulau terpencil.

Baca: Pencuri Tak Sadar GPS Motor Curiannya Nyala, DPO Curanmor Dari Bekasi Ini Diringkus d Cirebon

Baca: Fakta Baru Kasus Foto Syur Model di Surabaya: Fotografer Bikin Event Gemez 18+, Daftar 700 Ribu

Di Kota Iki, di mana orang yang terinfeksi pertama kali diidentifikasi di Perfektur Nagasaki, penelitian klinis dimulai pada 19 Maret untuk petugas kesehatan yang memberikan perawatan medis kepada orang yang terinfeksi.

Studi klinis serupa akan dilakukan di Rumah Sakit Universitas Nagasaki.

"Metode ini dapat digunakan untuk banyak tes, karena dapat dengan mudah dideteksi dalam waktu singkat. Saya ingin menyebarkannya ke seluruh perfektur sambil berkonsultasi dengan para pimpinan pemda setempat," tambah Prof Yasuda.

Diskusi mengenai Jepang dalam WAG Pecinta Jepang terbuka bagi siapa pun. Kirimkan email dengan nama jelas dan alamat serta nomor whatsapp ke: info@jepang.com

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved