Minggu, 31 Agustus 2025

Virus Corona

Pihak Berwenang Dinilai Lambat Bertindak, Apakah Rusia Siap Menghadapi Covid-19?

Rusia dihadapkan dengan krisis pandemi Covid-19. Pihak berwenang disebut lambat bertindak sehingga infeksi dapat menyebar dengan cepat.

ERIN BOLLING / US ARMY / AFP
ILUSTRASI - Foto Angkatan Darat AS pada 8 Maret 2020 menunjukkan seorang karyawan USAMRIID (Institut Penelitian Medis Angkatan Darat Amerika Serikat) sedang melakukan penelitian terhadap virus coronavirus baru, COVID-19. 

TRIBUNNEWS.COM - Rusia dihadapkan dengan krisis pandemi Covid-19.

Pihak berwenang disebut lambat bertindak sehingga infeksi dapat menyebar dengan cepat.

Meski pun Rusia hampir tahan secara genetis terhadap perang, kelaparan dan ketidakstabilan politik, pandemi Covid-19 tampaknya sangat berbeda, kata Natalya Amelia.

Natalya Amelia merupakan penata rambut Rusia di Moskow.

Ibu dua anak ini (45) termasuk orang yang paling berisiko terkena infeksi Covid-19.

"Di Moskow, pihak berwenang berpura-pura bersiap, tetapi sejauh ini tidak ada yang berubah, kecuali rak-rak di toko," katanya kepada Al Jazeera.

"Orang-orang menyapu semuanya dari rak," terangnya.

Baca: Pakar Kritik Angka Infeksi Covid-19 Rusia Rendah

Baca: Ini Resep Jitu Presiden Vladimir Putin Redam Wabah Virus Corona di Rusia

Para pekerja medis membawa seorang pasien di bawah perawatan intensif ke rumah sakit sementara Columbus Covid 2 yang baru dibangun  pada 16 Maret 2020 untuk para pasien coronavirus di Gemelli di Roma. Wabah Virus Corona di Italia Makin Parah, Orang Berusia 80 ke Atas akan Dibiarkan Mati jika Kondisinya Kritis
Para pekerja medis membawa seorang pasien di bawah perawatan intensif ke rumah sakit sementara Columbus Covid 2 yang baru dibangun pada 16 Maret 2020 untuk para pasien coronavirus di Gemelli di Roma. Wabah Virus Corona di Italia Makin Parah, Orang Berusia 80 ke Atas akan Dibiarkan Mati jika Kondisinya Kritis (ANDREAS SOLARO / AFP)

Covid-19 di Rusia

Hanya satu orang Rusia, wanita berusia 79 tahun di Moskow yang meninggal karena pneumonia akibat Covid-19.

Sementara, 438 orang telah didiagnosis dengan infeksi Covid-19 pada Senin (23/3/2020).

Para pejabat mengatakan, infeksi Covid-19 termasuk 71 kasus dalam 24 jam terakhir.

Jumlah kasus di Rusia jauh lebih sedikit dibandingkan kematian yang dilaporkan setiap hari di Italia.

Di mana setidaknya 5.467 orang telah meninggal dan di Prancis, ada sekira 16.000 kasus yang dikonfirmasi.

Sejauh ini, Rusia telah melakukan tes untuk Covid-19 kepada lebih dari 150.000 orang.

Langkah tersebut memberi Rusia satu di antara rasio terendah di dunia (terdampak corona-Red).

Baca: Masa Pemerintahan Presiden Rusia Vladimir Putin Bisa Sampai 2036 Gara-gara Covid-19

Baca: Profil Vladimir Putin Presiden Rusia Saat Ini, Berikut Biografi dan Karier Politiknya

Tes Covid-19 di Rusia

Untuk diketahui, hanya ada satu lab di Rusia yang mampu melakukan tes Covid-19.

Lab tersebut menggunakan peralatan yang diproduksi di kota Siberia, barat Novosibirsk.

Pasien Covid-19 pertama dikonfirmasi melakukan tes tiga kali, dan tes kedua hasilnya negatif.

"Virus ini dikonfirmasi pada tes ketiga saya, tidak terlihat dalam darah saya tetapi dalam air liur saya,: ungkap David Berov di Instagram pada 5 Maret 2020.

"Seperti yang diberitahukan kepada saya, mereka hampir tidak bisa melihatnya, jadi itu sebabnya mereka ragu begitu lama," ungkap David.

Tes virus Corona.
Tes virus Corona. (doktersehat.com)

Kritikan kepada Rusia

Rendahnya jumlah infeksi yang terdeteksi mendorong beberapa kritikus mengklaim bahwa Kremlin menyembunyikan jumlah sebenarnya.

"Ada wabah virus corona di seluruh dunia," kata Anastasiya Vasilyeva, Dokter Alliance, serikat pekerja yang berbasis di Moskow.

"Di Rusia, ada wabah pneumonia yang dirawat di luar rumah sakit," tambahnya melalui video yang diunggah online, Kamis (19/3/2020).

Menurut Rosstat, badan statistik yang dikelola pemerintah Rusia menerangkan, jumlah kasus pneumonia yang berpotensi disebabkan oleh Covid-19 meningkat 37 persen di Moskow.

Data menunjukkan, Moskow mencatat lebih dari 6.900 kasus pneumonia pada Januari.

Angka tersebut naik sejumlah 5.058 dari tahun sebelumnya.

Secara nasional, kasus pneumonia juga tumbuh lebih dari tiga persen dari tahun ke tahun.

Baca: Dapatkah Covid-19 Pengaruhi Kehamilan atau Bayi Baru Lahir? Ini Kata Para Ahli

Baca: BWF Tetap Gelar All England Ditengah Wabah Covid-19, Pebulutangkis India Merasa Geram

Karantina di Rusia

Lebih lanjut, hingga Kamis (19/3/2020), Rusia, termasuk negara-negara yang dilanda pandemi tidak terkarantina.

Penulis fiksi Svetlana Volkava, penduduk St Petersburg, kota besar kedua di Rusia mengatakan, teman-temannya kembali dari Austria yang berbatasan dengan Italia.

Ketika tiba di bandara, mereka memiliki suhu tubuh yang cukup tinggi dan diperintahkan untuk melakukan karantina mandiri.

"Mereka menganggukkan kepala dan pulang," kata Volkova kepada Al Jazeera.

"Tidak ada yang menghentikan mereka," katanya.

Pengamat lain, mengatakan Rusia terlambat menyadari bahaya pandemi Covid-19.

"Di permukaan ya, di media sosial Rusia, kebanyakan mengabaikan virus dan tidak memahami bahayanya," ungkap sejarawan kelahiran Rusia, Nikolay Mitrokhin kepada Al Jazeera.

"Tetapi, kami memahami sekarang, bahwa orang Italia dan Jerman memiliki sikap yang sama," ungkapnya.

Lebih jauh, Rusia menutup perbatasannya pada Rabu (18/3/2020).

Pihak berwenang juga melarang pertemuan di luar ruangan, menutup sekolah dan tempat serta akses tempat wisata.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan