Minggu, 31 Agustus 2025

Rusuh di Amerika Serikat

Trump Sebut ANTIFA Teroris dalam Demo Bela George Floyd, Anak Jaksa Agung Minnesota Dukung ANTIFA

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut ANTIFA atau kelompok antifasisme sebagai organisasi teroris dalang kericuhan demo bela George Floyd.

Penulis: Ifa Nabila
Editor: Sri Juliati
MANDEL NGAN / AFP
Presiden AS Donald Trump 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyebut ANTIFA atau kelompok antifasisme sebagai organisasi teroris yang menjadi dalang kekacauan demo membela George Floyd.

Setelah pernyataan Trump tersebut, anak Jaksa Agung Minnesota Keith Ellison, Jeremiah Elison, mendeklarasikan diri, ia mendukung ANTIFA.

Diketahui, Jeremiah saat ini menjabat sebagai anggota Dewan Kota Minneapolis.

Jeremiah melalui akun Twitter @jeremiah4north menyatakan dukungan resminya kepada ANTIFA sembari mengutip cuitan Trump, Senin (1/6/2020).

Diketahui, Trump menyebut ANTIFA sebagai organisasi teroris melalui akun Twitter @realDonaldTrump, Minggu (31/5/2020).

Baca: Donald Trump Anggap ANTIFA Teroris, Mantan Polisi AS Sebut soal Teroris dalam Demo Bela George Floyd

Baca: Demo Bela George Floyd Ricuh, 50 Agen Rahasia Gedung Putih Terluka, Donald Trump Diamankan di Bunker

Trump menyebut pemerintah AS akan menggolongkan ANTIFA sebagai organisasi teroris.

"Pemerintah Amerika Serikat akan mengkategorikan ANTIFA sebagai Organisasai Teroris," cuit Trump.

Dikutip Tribunnews.com dari foxnews.com, Trump menyalahkan ANTIFA dalam kekacauan demo membela George Floyd.

Sang Presiden beranggapan ANTIFA termasuk dalang dalam kericuhan yang terjadi di berbagai penjuru AS ini.

Pada Sabtu (30/5/2020), Trump juga menyebut kelompok radikal sayap kiri yang juga menjadi dalang.

"Ini adalah ANTIFA dan Radikal Sayap Kiri. Jangan salahkan pihak lain!" cuitnya.

Jeremiah pun menjawab cuitan terbaru Trump dengan pernyataan dukungan terhadap ANTIFA.

"Saya dengan ini menyatakan, secara resmi, dukungan saya untuk ANTIFA," cuit Jeremiah.

Jeremiah mengaku akan berhenti mendukung ANTIFA jika ada orang yang membuktikan, ANTIFA sudah melakukan kejahatan rasisme terhadap kulit hitam dan imigran.

Bahkan, Jeremiah menyebut, teroris yang terus melakukan penyerangan adalah pihak kulit putih.

"Kecuali jika seseorang dapat membuktikan kepada saya bahwa ANTIFA adalah dalang di balik pembakaran bisnis milik para kulit hitam dan imigran di lingkungan saya," ujarnya.

"Saya akan tetap fokus dalam menghentikan kekuatan teroris kulit putih yang BENAR-BENAR MENYERANG KITA!" tegasnya.

Mantan Polisi Ingatkan soal Teroris dalam Demo

Diberitakan Tribunnews.com sebelumnya, Daniel Linskey, mantan kepala polisi di Boston, Massachusetts, AS sempat menyebut soal adanya teroris yang menjadi penumpang gelap dalam demo membela George Floyd.

Linskey menyebut ada kelompok tertentu yang memanfaatkan momen demo itu untuk membuat kekacauan yang lebih parah di tengah masyarakat AS.

Linskey menganggap kelompok tersebut memiliki misi untuk menganggu kestabilan kehidupan masyarakat.

Melihat banyak kericuhan terjadi dalam demo bela George Floyd, Linskey teringat peristiwa penembakan remaja kulit hitam, Michael Brown pada 2014 lalu.

Pihaknya mendapati ada percakapan yang mencurigakan di Twitter dan diduga sebagai pihak teroris.

Baca: LIVE Streaming Suasana Demo di Minneapolis dan Kota Lain di AS, Tuntut Keadilan atas George Floyd

Baca: George Floyd dan Polisi Derek Chauvin yang Membunuhnya Ternyata 17 Tahun Kerja Bersama Jadi Satpam

Pengunjukrasa berkumpul di sekitar toko minuman keras yang terbakar di dekat Kantor Polisi di Minneapolis, Minnesota, Kamis (28/5/2020). Amerika Serikat dilanda kerusuhan hebat, pasca meninggalnya George Floyd akibat kehabisan nafas, setelah lehernya ditindih seorang petugas Polisi Minneapolis dalam sebuah penangkapan. AFP/KEREM YUCEL
Pengunjukrasa berkumpul di sekitar toko minuman keras yang terbakar di dekat Kantor Polisi di Minneapolis, Minnesota, Kamis (28/5/2020). Amerika Serikat dilanda kerusuhan hebat, pasca meninggalnya George Floyd akibat kehabisan nafas, setelah lehernya ditindih seorang petugas Polisi Minneapolis dalam sebuah penangkapan. (AFP/KEREM YUCEL)

"Ketika saya di Ferguson untuk (Departemen Kehakiman) bersama dengan jajaran pemerintah Obama setelah penembakan Brown," ungkap Linskey.

"Kami melihat ada beberapa grup teroris dan organisasi di Pakistan dan wilayah lain yang membuat akun Twitter palsu dan rekayasa.

"(Akun Twitter) berkomunikasi dua arah, seolah mengasingkan satu sama lain dan muncul ke publik," sambungnya.

Sementara itu, menanggapi pembunuhan George Floyd oleh Derek Chauvin, Linskey mengaku benci melihat peristiwa rasisme itu.

Linskey menilai, tak ada orang yang tidak benci dengan peristiwa kejam itu.

Ia pun setuju dengan antirasisme yang digaungkan oleh peserta demo.

"Tak ada pihak lain di sini (selain pendukung George Floyd). Polisi setuju dengan para demonstran bahwa ini keterlaluan, polisi (Derek Chauvin) harus dimintai pertanggungjawaban," tegasnya.

Meski demikian, Linskey mengimbau masyarakat untuk waspada karena adanya penumpang gelap dalam demo.

"Tapi sekarang ada orang-orang yang membajak kemarahan warga, yang seharusnya sah-sah saja karena masalah rasisme dalam masyarakat," ujar Linskey.

"Dan mereka menggunakannya (demo) untuk melakukan kekerasan demi tujuan mereka sendiri," imbuhnya.

Linskey meminta para pendemo untuk tidak mudah terhasut orang lain yang mengatasnamakan diri mereka sebagai pembela George Floyd.

Trump Diamankan di Bunker

Dikutip Tribunnews.com dari foxnews.com, pejabat senior Gedung Putih menyebut lebih dari 50 agen rahasia terluka dalam demo, Minggu (31/5/2020).

Para pendemo melempari botol hingga bom molotov ke arah gedung putih.

Di kota-kota lain, kekacauan juga dilaporkan sangat parah, banyak mobil yang dibakar.

Bahkan Gereja St John bersejarah di sekitar Gedung Putih juga turut dibakar oleh massa pada Minggu malam.

Pengunjuk rasa membentangkan spanduknya dalam aksi demonstrasi di depan Gedung Putih, Washington DC, Jumat (29/5/2020). Amerika Serikat dilanda kerusuhan hebat, pasca meninggalnya George Floyd akibat kehabisan nafas, setelah lehernya ditindih seorang petugas Polisi Minneapolis dalam sebuah penangkapan. AFP/JOSE LUIS MAGANA
Pengunjuk rasa membentangkan spanduknya dalam aksi demonstrasi di depan Gedung Putih, Washington DC, Jumat (29/5/2020). Amerika Serikat dilanda kerusuhan hebat, pasca meninggalnya George Floyd akibat kehabisan nafas, setelah lehernya ditindih seorang petugas Polisi Minneapolis dalam sebuah penangkapan. AFP/JOSE LUIS MAGANA (AFP/JOSE LUIS MAGANA)

Lantaran keadaan semakin genting, para agen rahasia membawa Trump ke bunker bawah tanah di Gedung Putih.

Kabar ini dibenarkan oleh pejabat senior kepada Fox News setelah kabar Trump itu muncul di The New York Times.

Pejabat tersebut mengungkap Trump memang sempat dibawa ke bunker, tapi tidak lama.

"Tidak lama. Namun Beliau ke sana (bunker)," ujar pejabat senior, Minggu.

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Judd Deere enggan berkomentar soal kabar sang presiden.

Pasalnya, hal tersebut adalah bagian dari protokol keamanan.

"Gedung Putih tidak berkomentar pada protokol dan keputusan keamanan," ungkap Deere.

Sebelumnya, Trump dikabarkan berada di sebuah mansion eksekutif pada Jumat (29/5/2020) saat gelombang protes semakin besar.

Trump disebut memantau jalannya demo dari mansion tersebut.

Pada Sabtu (30/5/2020), Trump sempat melontarkan pujian pada agen rahasia yang bekerja dengan sangat profesional.

(Tribunnews.com/ Ifa Nabila)

 
Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan