Minggu, 31 Agustus 2025

Virus Corona

New Normal di Amerika Serikat Masuki Tahap Pertama, Namun Kasus Positif Covid-19 Masih Meningkat

“Di kota New York saja sudah 20 ribu lebih. Jadi, kota New York episentrum yang ada di AS. Tapi sudah mulai menurun,” lanjutnya

Penulis: Larasati Dyah Utami
Tribunnews.com/Larasati Dyah Utami
Direktur Jamaica Muslim Center di New York, Imam Shamsi Ali dalam wawancara dengan Trijaya FM secara daring, Sabtu (13/6/2020) 

Laporan Wartawan Tribunnews, Larasati Dyah Utami

TRIBUNNNEWS.COM, JAKARTA – Penerapan new normal atau kenormalan baru di Amerika Serikat memasuki fase pertama, walaupun masih terjadi peningkatan kasus virus corona atau Covid-19.

Direktur Jamaica Muslim Center di New York, Imam Shamsi Ali mengatakan AS menerapkan tiga fase pemulihan sebagai langkah menuju normal baru.

Baca: Kasus Positif Corona Bertambah 1.014, Jawa Timur Kembali Sumbang Tambahan Tertinggi

Di mana sejumlah kegiatan sudah mulai dibuka termasuk kegiatan ibadah.

“Jadi disini ada tiga fase, ini masuk fase pertama. Mulai ada ibadah, tapi hanya diperbolehkan sekitar 20-30 orang saja. Jadi dibatasi sekali,” ujarnya dalam wawancara dengan Trijaya FM secara daring, Sabtu (13/6/2020).

Kendati demikian, Imam Shamsi Ali mengungkapkan kondisi masih mengerikan, karena jumlah kasus meninggal di AS telah mencapai 113 ribu kasus dan lebih  dari 2 juta orang yang terkonfirmasi positif.

“Di kota New York saja sudah 20 ribu lebih. Jadi, kota New York episentrum yang ada di AS. Tapi sudah mulai menurun,” lanjutnya.

Keberhasilan New York menurunkan jumlah kasus, disebutnya karena mendapatkan penanganan yang baik dari Gubernur dan Walikota setempat.

Dia menyayangkan sebelum datangnya pandemi ini dan Wuhan masih jadi pusat penyebaran wabah, isu Covid-19 dijadikan isu politik, sehingga tidak ditangani dengan baik oleh federal.

“Bahkan, Presiden AS Donald Trump menuding China sedang mencari perhatian dunia,” ungkap Ali

Saat pelonggaran memasuki fase pertama baru-baru ini, kembali terjadi kenaikan jumlah kasus, terutama di wilayah Florida, New Orleans, Atlanta, dan Georgia.

Ali menyebut wilayah-wilayah tersebut merupakan wilayah dengan jumlah pendukung Trump terbanyak.

“Jadi tempat-tempat Donald berkuasa itu merasa tidak peduli dengan ini. Bahkan mereka mendemo Gubernur mereka di Michigan ketika wilayahnya akan di lockdown, jadi dijadikan isu politik,” lanjutnya

New Normal di AS menurutnya tidak hanya mensoalkan isu-isu kesehatan baru, tapi juga soal isu keadilan dan rasisme.

Kejadian yang menimpa George Floyd yang menyababkan pecahnya demonstrasi besar-besaran di seluruh dunia dan menyebabkan kerusuhan di AS menurutnya seperti bara api didalam sekam, yang tidak mengejutkan.

Baca: Kasus Harian Positif Covid-19 di Indonesia 1.014 Per 13 Juni, Menurun dari Hari Sebelumnya

“Berbicara new normal di AS saya melihat sesuatu yang lama kembali tampil. Demo yang terjadi merupakan simptom penyakit yang sudah ada dalam di AS, yaitu ketidakadilan dan rasisme,” ujar Ali.

"New normal untuk Amerika saat ini tentu juga lebih adil lagi bagi masyarakatnya," lanjutnya.

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan