Senin, 27 April 2026

Tiga perang Arab Saudi yang tidak akan dimenangkan oleh Mohammed bin Salman

Perang tak berkesudahan di Yaman, pemboikotan terhadap Qatar dan pemenjaraan perempuan yang dianggap mengkritik penguasa adalah tiga hal yang

Pada tahun 2017, dalam hitungan hari menyusul lawatan Presiden Trump ke Riyadh, Arab Saudi bersama Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir memboikot negara tetangga Qatar.

Mereka berdalih dukungan Qatar terhadap kelompok-kelompok Islam garis keras tidak dapat diterima, sama dengan dukungan terhadap terorisme.

Presiden Mesir Fattah al-Sisi, Raja Salman dan Presiden AS Donald Trump di Riyadh pada 2017
EPA
Pemboikotan terhadap Qatar terjadi tidak lama setelah kunjungan Presiden Trump ke Riyadh pada tahun 2017.

Uni Emirat Arab mengeluarkan dokumen berisi daftar orang-orang yang dicap sebagai teroris yang tinggal di Qatar, tetapi negara itu menepis tuduhan pihaknya mendukung terorisme dan menolak memenuhi tuntutan keempat negara.

Salah satu tuntutannya adalah mengendalikan saluran televisi unggulannya, Al Jazeera.

Sama dengan Houthi di Yaman, terdapat harapan yang tidak pada tempatnya bahwa Qatar akan runtuh dan pada akhirnya akan menyerah.

Itu belum terjadi, antara lain karena Qatar mempunyai kekayaan besar. Qatar mempunyai ladang gas luas di lepas pantai dan menanamkan modal lebih dari US$53 miliar di Inggris saja- dan juga mendapat sokongan dari Turki serta Iran.

Ini bermakna bahwa dalam beberapa tahun belakangan muncul keretakan mendalam di Timur Tengah.

Satu kelompok terdiri dari negara-negara kerajaan, Sunni konservatif di Teluk - Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Bahrain - bersama dengan sekutu mereka, Mesir.

Di sisi lain terdapat Qatar, Turki dan berbagai gerakan politik Islam yang didukung kedua negara seperti Ikhwanul Muslimin dan Hamas di Gaza.

markas besar Al Jazeera Media Network, di Doha, Qatar
AFP
Arab Saudi dan negara sekutu-sekutunya menuntut Qatar menutup jaringan televisi Al Jazeera.

Gerakan transnasional ini adalah kutukan bagi para pemimpin kuartet, yang menganggapnya sebagai ancaman eksistensial bagi kekuasaan mereka.

Tak diragukan lagi pemboikotan terhadap Qatar selama tiga setengah tahun telah merugikkan kedua belah pihak baik dari sisi ekonomi maupun politik.

Hal tersebut juga telah menjadikan persatuan Teluk Arab sebagai ejekan pada saat para pemimpin Teluk merasa semakin khawatir tentang program rudal dan nuklir Iran.

Jared Kushner dan Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani di Doha (2 Desember 2020)
EPA
Panasihat presiden AS Jared Kushner berunding dengan pemimpin Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani di Doha pada tanggal 2 Desember lalu.

Utusan Presiden Trump, Jared Kushner telah melakukan pembicaraan di Teluk guna mengakhiri sengketa, dan tentu pemerintahan Biden nanti juga menginginkan penyelesaian. Bagaimanapun juga, Qatar menjadi tuan rumah bagi pangkalan Pentagon terbesar di luar AS yaitu di Al-Udaid.

Namun apa pun yang disepakati dalam mediasi, masih harus dilihat dalam tataran penerapan.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved