Minggu, 31 Agustus 2025

Australia Bakal Tanpa Google dan Facebook

Google menentang rencana UU yang akan memaksa mereka dan Facebook Inc membayar ke penerbit Australia.

Tribun Jabar/Gani Kurniawan
Sejumlah guru kelas melakukan kegiatan mengajar jarak jauh kepada peserta didik yang ada di rumah masing-masing dengan metode belajar mengajar secara daring (online), di SDN 026 Bojongloa, Jalan Cibaduyut Raya, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (27/7/2020). Proses belajar mengajar daring yang diterapkan di sekolah ini menggunakan aplikasi WhatsApp Group, Google Form, dan Google Classroom. Sementara bagi peserta didik yang tidak memiliki smartphone, pihak sekolah mengharuskan orang tua siswa ke sekolah setiap hari untuk mengambil lembaran soal yang bisa dikerjakan siswa di rumah. Sedangkan hasil pengerjaan soalnya dikumpulkan lewat komite seminggu sekali untuk penilaian. Tribun Jabar/Gani Kurniawan 

Alternatif penggunaan mesin pencari nirlaba juga telah disarankan. Partai Hijau Australia bulan ini meminta pemerintah mempertimbangkan menyiapkan mesin pencari publik daripada membiarkan Microsoft masuk.

"Kita tidak boleh mencari raksasa asing lain untuk mengisi kekosongan," kata Senator Sarah Hanson-Young.

China Bebas Google, Miliki Mesin Baidu

Jika UU itu disahkan, Australia tidak akan menjadi negara bebas Google pertama di dunia. Di China, Google diblokir. Tapi mereka punya Baidu Inc, mesin pencari terkemuka di negara itu.

Australia, yang menonjol sebagai negara demokrasi kebarat-baratan, jika tanpa akses ke situs pencari dapat membuat negara itu mundur bertahun-tahun dalam hal akses cepat informasi.

Menyimpan dua dekade data di gudang arsip, dan memproses sekitar 5,5 miliar pencarian dalam sehari, Google dianggap sebagai platform yang tak tertandingi.  

“Bing tidak akan mampu bersaing dengan Google dalam hal kualitas,” kata Daniel Angus, profesor komunikasi digital yang berbasis di Brisbane di Queensland University of Technology.

“Orang Australia mungkin harus mempelajari kembali cara menggunakan penelusuran,” imbuhnya.

Meski begitu, sikap keras Google diperkirakan akan melunak. Scott Morrison mengatakan pertemuannya dengan perusahaan itu "konstruktif".

Google menolak mengomentari pertemuan tersebut, meskipun mengatakan dalam sebuah pernyataan pihaknya mengusulkan penerbit kompensasi melalui produk News Showcase.

Ini produk di mana perusahaan membayar outlet media tertentu untuk menampilkan konten yang dikurasi.

Beberapa lansia Australia yang pernah hidup di dunia pra-Google memiliki lebih sedikit kekhawatiran di banding kaum mudanya.

Gino Porro (58), pemilik bar dan resto Li'l Darlin di Darlinghurst Sydney, hanya menggunakan Google dan belum pernah mendengar mesin telusur lainnya.

Tapi dia yakin pengaruh kembalinya rekomendasi dari mulut ke mulut, jika Google menutup layanannya. "Layanan pelanggan itu penting, bukan Google," katanya.

Namun di Canberra, Smith, seorang siswa merasa tak nyaman jika Google ditutup, seberapa baik kinerja mesin telusur penggantinya.

“Sejujurnya saya merasa hidup saya akan menjadi jauh lebih sulit,” katanya.(Tribunnews.com/Aljazeera/Boomberg/xna)

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan