Jumat, 10 April 2026
Deutsche Welle

Analisis: Pandemi COVID-19 Tahun 2020 'Menghancurkan' Hutan Dunia

Tahun lalu, laju kerusakan hutan tropis dunia mengalami peningkatan. Global Forest Watch sebut pandemi COVID-19 melemahkan peraturan,…

Berdasarkan data layanan pemantauan Global Forest Watch (GFW) tahun 2019, setiap enam detik hutan hujan tropis seluas satu lapangan sepak bola menyusut dan hilang. Berkurangnya hutan hujan tropis terjadi ketika kesadaran tentang peran penting hutan sebagai penyimpan karbon dalam memperlambat perubahan iklim tengah digencarkan.

Platform pelacakan yang menggunakan citra satelit dan dijalankan oleh lembaga pemikir World Resources Institute (WRI) yang berbasis di Amerika Serikat (AS) akan merilis angka deforestasi hutan tahun 2020.

Frances Seymour, seorang rekan senior di WRI, mengatakan pekerjaan penegakan hukum dan lembaga perlindungan hutan telah dibatasi oleh pemberlakuan lockdown akibat pandemi COVID-19 dan pemotongan anggaran karena terjadinya kesengsaraan ekonomi. "Selain itu, terdapat indikasi bahwa beberapa pemerintah telah bereaksi terhadap krisis ekonomi dengan melonggarkan peraturan lingkungan sebagai cara untuk memfasilitasi investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi," kata Seymour kepada Thomson Reuters Foundation.

Pandemi, hutan, dan perubahan iklim

Penebangan hutan berdampak pada perubahan iklim, lantaran pohon menyerap sekitar sepertiga emisi karbon yang dihasilkan di seluruh dunia. Hutan juga menyediakan makanan dan mata pencaharian bagi orang-orang yang tinggal di dalam atau di sekitarnya, serta merupakan habitat penting bagi satwa liar.

Pada tahun 2019, hilangnya 3,8 juta hektar hutan menjadi kemerosotan terbesar ketiga sejak pergantian abad. Brasil, Republik Demokratik Kongo, dan Indonesia merupakan tiga negara pelanggar teratas, menurut GFW.

Sementara pandemi yang terjadi sejak tahun lalu menyebabkan penurunan permintaan komoditas yang menjadi penyebab deforestasi, seperti kelapa sawit, kayu dan kedelai. Banyak pekerja di sejumlah kota juga kehilangan pekerjaan dan kembali ke kampung halaman mereka, kata Seymour.

"Sementara penurunan harga komoditas dapat memperlambat konversi hutan untuk agribisnis komersial, kembalinya pekerja perkotaan ke desa-desa ... dapat meningkatkan pembukaan hutan skala kecil," katanya.

Kerusakan yang tidak terabaikan

Laju deforestasi di Indonesia, yang merupakan rumah bagi hutan tropis terbesar ketiga di dunia dan juga penghasil minyak sawit terbesar, secara historis untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, tetap rendah di tahun 2019.

Penegakan hukum yang lebih ketat untuk mencegah kebakaran hutan dan penebangan liar, serta moratorium pembukaan hutan hujan baru dan konsesi kelapa sawit semuanya memiliki andil, kata para ahli kehutanan. Meskipun demikian, lembaga pemerintahan yang lemah, korupsi dan klaim lahan yang tumpang tindih membuat Indonesia masih membuka hutan hingga menyebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Selain itu, tahun lalu Indonesia juga mengurangi upaya perlindungan hutan karena pandemi COVID-19 dan memperkenalkan undang-undang penciptaan lapangan kerja yang menurut para aktivis dapat merusak alam dan lingkungan di tahun-tahun mendatang.

Gemma Tillack, Direktur Kebijakan Kehutanan Rainforest Action Network yang berbasis di AS, mengatakan Indonesia masih menunjukkan deforestasi, penebangan dan karhutla masih ada - dan dalam beberapa kasus mengalami lonjakan - sepanjang tahun lalu.

"2020 akan dikenang sebagai tahun di mana perusakan hutan hujan terus berlanjut, meskipun merek dan bank besar menyatakannya sebagai tahun sukses (atau gagal) untuk mengakhiri deforestasi," katanya.

David Ganz, Direktur Eksekutif Hak Tanah Internasional RECOFTC, memperkirakan berkurangnya hutan tropis tahun 2020 lima kali lebih besar dibanding tahun 2019, yang sebagian besar disebabkan oleh karhutla yang tidak terkendali.

Ironisnya, hilangnya hutan dan meningkatnya kontak antara manusia dan satwa liar adalah pendorong utama munculnya patogen baru, seperti penyebab Ebola, SARS, dan sekarang COVID-19,” tambahnya.

Banyaknya hutan yang hancur

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved