Penanganan Covid

62 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson Terancam Harus Dibuang Jika Terbukti Terkontaminasi

Setelah 15 juta dosis vaksin Covid-19 Johnson & Johnson rusak, kini 62 juta dosis lainnya dilaporkan terancam dibuang jika terbukti terkontaminasi.

Frederic J. BROWN / AFP
Botol vaksin Johnson & Johnson Janssen Covid-19 dosis tunggal yang disiapkan oleh St. John's Well Child and Family Center dan Los Angeles County Federation of Labour and Immigrant pada 25 Maret 2021 di Los Angeles, California. Setelah 15 juta dosis vaksin Covid-19 Johnson & Johnson rusak, kini 62 juta dosis lainnya dilaporkan terancam dibuang jika terbukti terkontaminasi. 

TRIBUNNEWS.COM - Setelah 15 juta dosis vaksin Covid-19 Johnson & Johnson rusak, kini 62 juta dosis lainnya dilaporkan terancam dibuang jika terbukti terkontaminasi.

Pada bulan Februari lalu, para pekerja di sebuah pabrik yang dijalankan oleh Emergent BioSolutions - sebuah perusahaan bioteknologi Amerika yang dikenal memproduksi vaksin antraks - tanpa sadar mencemari sekitar 15 juta dosis vaksin Johnson & Johnson dengan AstraZeneca.

Dosis tersebut akhirnya rusak secara permanen, New York Times pertama kali melaporkan.

Kini, 62 juta dosis vaksin Johnson & Johnson yang telah dibuat di pabrik itu harus diperiksa untuk memastikan tidak terkontaminasi, lapor The Times.

Baca juga: Alami Reaksi Langka setelah Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson, Pria di Virginia Masuk UGD

Baca juga: Hanya Sekali Suntik, WHO Beri Izin Penggunaan Darurat Vaksin Johnson & Johnson

Foto ilustrasi Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson 17 November 2020.
Foto ilustrasi Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson 17 November 2020. (JUSTIN TALLIS / AFP)

Jika terkontaminasi, vaksin itu juga harus dibuang.

Pabrik tersebut telah menghasilkan setidaknya 150 juta dosis vaksin Johnson & Johnson secara total.

Tetapi belum ada dosis yang digunakan karena pabrik itu belum disertifikasi oleh regulator untuk mendistribusikan dosis ke publik, lapor The Times.

Mengenal Vaksin Covid-19 dari Johnson & Johnson, Hanya Butuh Satu Kali Suntikan

Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson telah mendapat izin penggunaan darurat oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat pada 27 Februari lalu.

Tidak seperti mRNA, vaksin dua dosis dari Pfizer-BioNTech dan Moderna, yang satu ini membutuhkan hanya satu dosis.

Vaksin Johnson & Johnson 85% efektif mencegah bentuk COVID-19 yang parah atau kritis yang dapat menyebabkan rawat inap atau kematian setidaknya 28 hari setelah vaksinasi, menurut data yang dirilis oleh perusahaan, yang telah dikonfirmasi dalam analisis FDA.

Karena hanya memerlukan satu dosis dan memiliki persyaratan penyimpanan suhu yang terbilang mudah, vaksin Johnson & Johnson dipercaya dapat mempercepat program vaksinasi di AS.

Baca juga: Afrika Selatan Batalkan Penggunaan Vaksin Covid-19 AstraZeneca, akan Beralih ke Johnson & Johnson

Baca juga: Mengenal Varian Covid-19 Baru yang Ditemukan di Inggris, Afrika Selatan dan Brasil, Apa Gejalanya?

Presiden Joe Biden mengumumkan pada 2 Maret bahwa AS akan memiliki cukup pasokan vaksin untuk semua orang dewasa pada akhir Mei.

Biden menegaskan bahwa Johnson & Johnson akan bekerja dengan salah satu pesaingnya, raksasa farmasi Merck, dalam "kemitraan bersejarah" untuk meningkatkan produksi vaksinnya, The Washington Post melaporkan.

Halaman
1234
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved