Breaking News:

The New Pentagon Papers, AS Operasikan 60.000 Tentara Khusus untuk Tugas Rahasia

Ini praktik ilegal yang telah berulang kali dituduhkan oleh AS ke negara-negara seperti Rusia, Cina, dan Iran.

DOKUMEN TRIBUNNEWS
FILE - Tentara AS antre dikirim ke berbagai medan tempur global maupun regional di Timur Tengah, Asia dan Afrika. 

TRIBUNNEWS.COM, MOSKOW – Militer AS mengoperasikan 60.000 tentara rahasia yang kuat tanpa pengawasan Kongres.

Pengoperasian mereka menghabiskan setidaknya $ 900 juta setiap tahunnya. Laporan mengejutkan ini dirilis majalah berita ternama AS, Newsweek. Sputniknews mengutip kabar itu, Selasa (18/5/2021) WIB.

Laporan itu menurut Newsweek dipublikasikan setelah melalui penyelidikan selama dua tahun. Puluhan ribu tentara yang bertugas secara rahasia itu terlibat operasi di dalam maupun di luar negeri

Jika keberadaannya dikonfirmasi, akan melanggar banyak undang-undang AS, serta Konvensi Jenewa tentang aturan konflik bersenjata.

Laporan majalah tersebut, dikatakan didasarkan pada lusinan permintaan Undang-Undang Kebebasan Informasi, analisis terhadap 1.600 resume dan posting pekerjaan, serta wawancara dengan beberapa orang yang terlibat di dalamnya.

Baca juga: Ilmuwan Pentagon Kembangkan Microchip yang Bisa Deteksi Covid-19, Ditanam di Bawah Kulit

Baca juga: Joe Biden Tunjuk Pensiunan Jenderal Bintang IV Lloyd Austin Pimpin Pentagon, Ini Profilnya

Hasilnya menunjukkan tentara rahasia ini melakukan operasi di semua wilayah AS dan luar negeri, baik secara online. dan offline, dan tugasnya termasuk mengalahkan teknologi yang semakin kompleks.

Lebih dari setengah pasukan dikatakan terdiri dari pasukan operasi khusus yang beroperasi di negara-negara di seluruh dunia, termasuk Pakistan, Yaman, negara-negara di Afrika Barat, dan bahkan Korea Utara dan Iran.

Spesialis intelijen yang terlibat dalam pengumpulan informasi, kontra-intelijen, dan ahli bahasa dilaporkan merupakan kontingen terbesar kedua.

Personel lain merupakan tentara siber yang terlibat dalam perang siber dan pengumpulan intelijen, dan bahkan dilaporkan bekerja untuk memanipulasi media sosial.

Ini praktik ilegal yang telah berulang kali dituduhkan oleh AS ke negara-negara seperti Rusia, Cina, dan Iran.

Halaman
12
Editor: Setya Krisna Sumarga
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved