Detik-detik Terakhir Partai Oposisi Israel Membentuk Pemerintahan untuk Gulingkan Benjamin Netanyahu
Politisi Israel harus berpacu dengan waktu membentuk pemerintahan koalisi untuk menggulingkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Penulis:
Ika Nur Cahyani
Editor:
Pravitri Retno W
Pada Selasa lalu, Ketua Parlemen sekaligus politisi di partai berkuasa Likud, yakni Yariv Levin mengatakan anggota politik tidak boleh meninggalkan ideologi mereka.
Pihak Partai Likud, partai yang menaungi Netanyahu, mencoba menggagalkan koalisi Yair Lapid bersama Naftali Bennett.
Partai Likud menyatakan bahwa rencana Bennett akan menjabat sebagai perdana menteri dahulu kemudian disusul Yair Lapid adalah tindakan ilegal.
Namun Presiden Israel, Reuven Rivlin menolak pernyataan itu pada Selasa lalu.
Bennett merupakan seorang nasionalis yang religius.

Baca juga: Kepala Intelijen Mesir Bertemu Hamas di Gaza untuk Perkuat Gencatan Senjata dengan Israel
Baca juga: Profil Benjamin Netanyahu, Jabat Perdana Menteri Israel Selama 12 Tahun
Dia adalah pendukung kuat gerakan pemukilan di wilayah Palestina dan lebih keras mengesampingkan nasib Palestina.
Lapid juga berusaha mencadapat dukungan dari anggota parlemen Islamis Arab yang memiliki keinginan untuk mencopot Benjamin Netanyahu.
Netanyahu, yang telah menduduki jabatan tinggi selama 15 tahun sejak 1996, menghadapi bahaya politik dan potensi ancaman terhadap kebebasannya.
Pria 71 tahun itu saat ini sedang berjuang melawan tiga tuduhan korupsi yakni penipuan, penyuapan, dan pelanggaran kepercayaan, yang ia bantah.
Jika dia menjadi oposisi, dia mungkin ditolak kekebalan parlemennya, dan pemerintah baru dapat meloloskan undang-undang untuk melarang dia dari jabatan di masa depan.
(Tribunnews/Ika Nur Cahyani)