AS Pertimbangkan Sanksi Baru Terhadap Penjualan Minyak Iran ke China
Amerika Serikat (AS) tengah mempertimbangkan sanksi yang lebih ketat terhadap penjualan minyak Iran ke China.
TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) tengah mempertimbangkan sanksi yang lebih ketat terhadap penjualan minyak Iran ke China.
Langkah yang diambil pemerintahan Joe Biden dianggap sebagai cara untuk mendorong Teheran menyimpulkan kesepakatan nuklir dan meningkatkan biaya untuk menyelesaikan negosiasi yang macet.
Melansir WSJ, negosiator AS bekerja dengan Eropa dan mitra internasional lainnya di Wina sejak April 2021 untuk menghidupkan kembali kesepakatan 2015, yang membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pelonggaran sanksi luas.
Ketika pembicaraan itu goyah, AS menjalankan opsi untuk mendorong Iran agar terus bernegosiasi atau (jika tidak) menghukumnya, menurut pejabat AS dan orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.
Baca juga: Manfaat Minyak Zaitun untuk Rambut, Mengurangi Masalah Ketombe hingga Rambut Bercabang
Baca juga: 8 Manfaat Minyak Kayu Putih: Terapi Sederhana Anosmia hingga Meredakan Batuk
Pejabat terkait mengatakan, satu rencana yang sedang disusun akan menghentikan penjualan minyak mentah Iran ke China, klien utama negara itu.
Langkah-langkah baru akan dilakukan jika pembicaraan nuklir gagal, kata para pejabat.
Rencana tersebut akan melibatkan penegakan agresif sanksi yang saat ini telah melarang transaksi dengan industri minyak dan perkapalan Iran melalui penunjukan baru atau tindakan hukum.
Baca juga: Negosiator Sebut AS Siap Cabut Sebagian Besar Sanksi ke Iran
Baca juga: Menlu Retno Gunakan Jejaring Negosiator Perempuan Asia Tenggara untuk Tahu Situasi di Myanmar
Di masa lalu, AS memberi sanksi kepada kapten kapal tanker minyak mentah Iran tujuan Suriah dan mendapatkan penyitaan kargo bahan bakar yang dikirim Teheran ke Venezuela.
“Tidak banyak yang tersisa untuk sanksi dalam ekonomi Iran. Penjualan minyak Iran ke China adalah hadiahnya," kata satu pejabat AS.
Belum ada keputusan yang dibuat untuk melanjutkan, kata para pejabat.
Ada risiko bahwa upaya itu bisa menjadi bumerang karena mendorong Iran untuk mempercepat program nuklirnya.
Pilihan lain juga sedang dipertimbangkan, kata para pejabat.
Termasuk kampanye diplomatik untuk membujuk China, India dan pembeli minyak mentah utama lainnya untuk memotong impor komoditas, perdagangan non-minyak, pembiayaan utang dan transfer keuangan, kata seorang pejabat kedua.
Baca juga: Pemimpin Tertinggi Iran Tunjuk Kepala Kehakiman Baru Gantikan Ebrahim Raisi
Baca juga: Jepang Berikan Bantuan Hibah Darurat Tanggap Covid-19 untuk Indonesia
Negosiasi terhenti ketika presiden terpilih garis keras Iran, Ebrahim Raisi, mengatakan bahwa Teheran tidak akan menyetujui kesepakatan tanpa penghapusan sanksi AS secara komprehensif, sesuatu yang Washington katakan tidak akan dilakukan.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran dan perunding nuklir utama, Abbas Araghchi, mengunggah cuitan di Twitternya pada Sabtu (`7/7/2021) bahwa pembicaraan harus menunggu sampai pelantikan Raisi bulan depan.
Program nuklir Iran telah membuat kemajuan selama setahun terakhir.
Berita lain terkait Sanksi Amerika Serikat
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/xi-jinping-joe-biden-2.jpg)