Konflik di Afghanistan
Taliban Akui Puluhan Juta Warga Afghanistan Mulai Kelaparan, Minta Bantuan Negara Lain
Saat ini ada sekitar 30 – 50 juta warga Afghanistan tengah kelaparan dan membutuhkan bantuan.
TRIBUNNEWS.COM, KABUL - Juru bicara Kelompok Taliban, Suhail Shaheen mengakui saat ini Afghanistan membutuhkan bantuan kemanusiaan dari negara-negara tetanga dan negara-negara di kawasan regional.
Saat ini ada sekitar 30–50 juta warga Afghanistan tengah kelaparan dan membutuhkan bantuan.
“Mereka sangat membutuhkan makanan dan bantuan sesegera mungkin. Orang-orang Afghanistan. Mereka hidup di bawah garis kemiskinan, jadi ini adalah tantangan dan prioritas bagi kami," ujarnya dalam sebuah wawancara yang dikutip dari APTN pada Kamis (9/9/2021).
Shaheen menyebut selama 20 tahun belakangan, rakyat Afghanistan telah menderita.
“Kami tidak menginginkan bantuan ini untuk diri kami sendiri. Kami menginginkan ini untuk rakyat kami, karena rakyat kami, mereka telah banyak menderita karena 20 tahun terakhir dan ini adalah waktu kritis,” katanya.
Baca juga: Taliban Aniaya dan Tahan Dua Jurnalis Afghanistan Karena Liput Unjuk Rasa Perempuan
Selain membutuhkan bantuan kemanusiaan, Taliban juga membuka kerja sama dengan China dalam membangun Afghanistan.
Ia menyebut, menjalin hubungan baik dengan China adalah kebijakan dari Kelompk Taliban.
“Kebijakan kami adalah memiliki hubungan baik dengan China. Ini didasarkan pada kebijakan kami”, ungkah Shaheen .
Pakistan Serukan Bantuan
Pakistan mendesak masyarakat internasional untuk mengadopsi tiga pendekatan untuk membantu Afghanistan setelah pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban.
Tiga pendekatan tersebut yakni memberikan bantuan kepada 14 juta orang yang menghadapi krisis kelaparan di Afghanistan, mempromosikan pemerintahan yang inklusif, dan bekerja dengan Taliban untuk membasmi semua kelompok teroris di negara tersebut.
Duta Besar Pakistan untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Munir Akram menekankan bantuan kemanusiaan harus menjadi prioritas utama.
Pembekuan aset Afghanistan oleh Amerika Serikat (AS) disebutnya tidak membantu karena membuat Taliban tidak memiliki akses kepada dolar atau valuta asing lainnya untuk membeli makanan atau impor minyak.
“Akan terjadi inflasi. Harga di Afghanistan akan naik lebih lanjut. Tingkat kemiskinan akan meningkat,” Akram memperingatkan.
“Anda kemudian akan mengalami krisis pengungsi yang ditakuti oleh Barat,” ujarnya seperti dikutip dari The Associated Press, Jumat (3/9/2021) lalu.
Baca juga: Sosok Gulafroz, Petinggi Polisi Wanita Afghanistan yang Kini Diburu Taliban, Dianggap Berbahaya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pejuang-taliban-badri-sebuah-unit-pasukan-khusus-berjaga-jag_20210831_193214.jpg)