Breaking News:

Virus Corona

Tanggapi Kegagalan Covax, Menlu Jepang Koordinasi dengan WHO, UNICEF & Organisasi Internasional Lain

Jepang sebagai salah satu negara Donor Vaksin akan memonitor lebih lanjut distribusi vaksin ke semua negara agar distribusi vaksin dapat seadilnya.

Editor: Dewi Agustina
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Menlu Jepang Yoshimasa Hayashi. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Menanggapi kegagalan COVAX dalam mendistribusikan vaksin khususnya ke negara miskin, Menteri Luar Negeri (Menlu) Jepang Yoshimasa Hayashi akan berkoordinasi dengan WHO, UNICEF serta badan internasional lainnya.

"Kita memang ingin agar vaksin tersebar luas ke berbagai negara termasuk ke negara terbelakang sekali pun," papar Menlu Jepang Yoshimasa Hayashi kepada Tribunnews.com.

Untuk itu Jepang sebagai salah satu negara Donor Vaksin akan memonitor lebih lanjut distribusi vaksin ke semua negara agar distribusi vaksin dapat seadilnya ke semua negara termasuk negara miskin.

"Kita akan koordinasikan dengan berbagai organisasi internasional seperti WHO, UNICEF atau pun organisasi internasional lainnya agar vaksin dapat menyebar luas ke negara terbelakang juga. Karena vaksin sangat penting bagi kita semua," ujar dia.

Baru-baru ini Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menyesalkan kegagalan COVAX Advance Market Commitment Engagement Group (AMC EG) untuk mencapai target mengirimkan 2 miliar dosis tahun 2021 terutama ke negara dengan penghasilan rendah.

Baca juga: Menlu Retno Sesalkan Kegagalan COVAX Dalam Distribusi Vaksin Covid-19, Ini Penyebabnya

Pasalnya pendistribusian vaksin terkendala akses kesetaraan. Vaksin Covid-19 telah menjadi barang langka dan sering dijual hanya kepada penawar tertinggi.

"Dan inilah yang terjadi saat ini," kata Retno pada acara Global Town Hall yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) secara virtual, Sabtu (20/11/2021).

Menlu RI membeberkan, 64,99% orang di negara berpenghasilan tinggi telah divaksinasi dengan setidaknya satu dosis dibandingkan dengan 6,48% di negara berpenghasilan rendah.

Lebih dari 80% vaksin telah dikirim ke negara-negara G-20 dibandingkan dengan 0,4% ke negara-negara berpenghasilan rendah.

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved