Kamis, 28 Mei 2026

Bitcoin: Bagaimana Kazakhstan menjadi penambang kripto terbesar kedua di dunia

Pada 2021, Kazakhstan menjadi negara penambang mata uang kripto terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, tapi apa harga yang harus dibayar

Tayang:

"Saya tidak mengerti, mengapa saya harus menghirup udara seperti ini, sementara mereka mengambil keuntungan darinya."

Kekhawatiran tentang suplai energi

Juga ada kekhawatiran bahwa penambangan kripto lambat laun akan menghasilkan kekurangan energi.

Pemerintah Kazakhstan berkata, dalam satu tahun saja, penambangan kripto telah menyumbang hingga 7-8% kenaikan daya listrik secara nasional.

Besarnya listrik yang yang dialirkan ke tambang-tambang kripto ini sekarang setara dengan jumlah energi yang dibutuhkan oleh penggunaan lampu di sebuah kota berukuran besar.

November tahun lalu, tambahan daya listrik harus diimpor dari Rusia untuk mengatasi permintaan yang meningkat di negara tersebut, dan pembatasan penambangan mulai diperkenalkan di beberapa wilayah dengan cadangan energi rendah.

Hal ini membuat sejumlah penambang gulung tikar, atau berusaha merelokasi bisnis mereka.

Askhat Orazbek, Wakil Menteri Perkembangan Digital Kazakhstan, mengaku kepada BBC bahwa perkembangan pertambangan kripto di negaranya terlalu cepat dan harus dikendalikan.

"Ada pertanyaan-pertanyaan tentang jumlah listrik yang dikonsumsi oleh penambang-penambang itu sekarang. Jika pada 2019 kami bilang bahwa kami memiliki surplus energi, sekarang kita tidak lagi.

"Listrik bukan hal yang tak terbatas di Kazakhstan. Itu mengapa, pada volume tertentu penambangan ini harus dihentikan."

Baca juga:

Pemerintahan Kazakhstan memperkenalkan aturan retribusi pada Januari 2022 dan menambah pajak pada industri penambang mata uang kripto atas penggunaan listriknya. Mereka berharap pemasukan dari sini dapat dipakai untuk membuat pembangkit listrik tenaga bersih.

"Hari-hari ini di Kazakhstan, penambangan kripto telah mengonsumsi apa yang disebut dengan energi kotor," ujarnya.

"Maka dari itu, kami berpendapat, harus ada kuota yang ditetapkan untuk para penambang kripto... Dan perkembangan lebih jauh dalam industri ini hanya mungkin terjadi bila infrastruktur untuk sumber energi hijau dibangun."

Meski begitu, tak seperti beberapa negara seperti China dan Kosovo, dan kemungkinan Rusia, Kazakhstan sepertinya berkomitmen untuk terus mendukung industri pertambangan kripto di negaranya.

"Ini tak ubahnya seperti revolusi teknologi," tukas Orazbek.

"Tujuan kami adalah tidak kehilangan momen ini, dan menjadi salah satu partisipan dari revolusi-kripto di dunia."

Kazakhstan masih memulihkan ekonomi dari protes dan kekerasan yang terjadi di awal bulan ini setelah kenaikan harga bahan bakar yang tiba-tiba.

Tidak ada hubungan langsung protes itu dengan penambangan kripto, tapi insiden ini menunjukkan dua poin penting.

Pertama, apa yang bisa terjadi bila cadangan energi sebuah negara terancam. Dan kedua, seberapa pentingnya Kazakhstan kini untuk dunia kripto.

Saat pemerintah Kazakhstan mencabut akses internet selama lima hari, jejaring global Bitcoin melambat secara signifikan dan harga kripto melemah.

Bagi pemerintah, taruhannya sangat tinggi, untuk berurusan dengan industri yang baru lahir ini.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved