Senin, 11 Mei 2026

Mantan Putra Mahkota Kerajaan Yordania, Pangeran Hamzah bin Hussein Lepaskan Gelarnya

Saudara tiri Raja Yordania, Pangeran Hamzah bin Hussein secara terang-terangkan melepaskan gelar pangerannya.

Tayang:
ATTILA KISBENEDEK / AFP
(FILES) Dalam file foto ini diambil pada 17 Desember 2009, Pangeran Yordania Hamzah bin Hussein menyampaikan pidato selama sesi pleno di Bella Center di Kopenhagen, pada hari ke-11 Konferensi Perubahan Iklim PBB COP15. Mantan putra mahkota Yordania, Hamzah, yang terlibat dalam plot kudeta terhadap saudara tirinya Raja Abdullah II pada tahun 2021, menyerahkan gelar kerajaannya pada 3 April 2022. Dalam sebuah pernyataan yang diposting di Twitter, dia mengumumkan bahwa dia "meninggalkan gelar pangeran", sebulan setelah pernyataan pengadilan kerajaan mengatakan dia telah meminta maaf kepada raja atas kudeta yang gagal tahun lalu. 

TRIBUNNEWS.COM -Saudara tiri Raja Yordania, Pangeran Hamzah bin Hussein secara terang-terangkan melepaskan gelar pangerannya.

Pangeran Hamzah bin Hussein memposting pengumuman di akun Twitter resminya pada Minggu (3/4/2022).

Pangeran Hamzah mengaku menulis keputusan itu didorong oleh keyakinannya yang tidak dapat diganggu gugat dengan "pendekatan, kebijakan, dan metode institusi Yordania".

Dilansir Al Jazeera, keputusan Pangeran Hamzh dinilai sebagai babak akhir perselisihan Kerajaan Yordania yang tengah berlangsung.

Baca juga: Ambisi Yordania Mendorong Hak-Hak Perempuan dan Kesetaraan Gender

Baca juga: Yordania dan Rusia Kritik Pandora Papers

(FILES) Dalam file foto ini diambil pada 17 Desember 2009, Pangeran Yordania Hamzah bin Hussein menyampaikan pidato selama sesi pleno di Bella Center di Kopenhagen, pada hari ke-11 Konferensi Perubahan Iklim PBB COP15. Mantan putra mahkota Yordania, Hamzah, yang terlibat dalam plot kudeta terhadap saudara tirinya Raja Abdullah II pada tahun 2021, menyerahkan gelar kerajaannya pada 3 April 2022. Dalam sebuah pernyataan yang diposting di Twitter, dia mengumumkan bahwa dia
(FILES) Dalam file foto ini diambil pada 17 Desember 2009, Pangeran Yordania Hamzah bin Hussein menyampaikan pidato selama sesi pleno di Bella Center di Kopenhagen, pada hari ke-11 Konferensi Perubahan Iklim PBB COP15. Mantan putra mahkota Yordania, Hamzah, yang terlibat dalam plot kudeta terhadap saudara tirinya Raja Abdullah II pada tahun 2021, menyerahkan gelar kerajaannya pada 3 April 2022. Dalam sebuah pernyataan yang diposting di Twitter, dia mengumumkan bahwa dia "meninggalkan gelar pangeran", sebulan setelah pernyataan pengadilan kerajaan mengatakan dia telah meminta maaf kepada raja atas kudeta yang gagal tahun lalu. (ATTILA KISBENEDEK / AFP)

Dalam pesan video yang diterbitkan oleh BBC pada 3 April 2021, Pangeran Hamzah mengklaim telah ditempatkan di bawah tahanan rumah dan menuduh penguasa Yordania melakukan korupsi dan ketidakmampuan.

Setelah itu, Pangeran Hamzah berhenti mengritik Raja Abdullah II dan para elit penguasa secara langsung.

Tetapi, keretakan hubungan antara saudara tiri itu belum diperbaiki seperti yang disarankan Royal Hashemite Court di masa lalu.

Royal Hashemite Court tidak segera memberikan komentar.

Baca juga: Konflik Yordania, Raja Abdullah II Perintahkan Jaksa Penuntut Bebaskan 16 Orang yang Ditahan

Cabut gelar Putra Mahkota Yordania

Abdullah dan Hamzah adalah putra Raja Hussein, yang memerintah Yordania selama hampir setengah abad sebelum kematiannya pada tahun 1999.

Dikutip Reuters, Abdullah telah menunjuk Hamzah sebagai putra mahkota setelah penerusnya, tetapi melucuti gelarnya pada 2004.

Raja Abdullah II dari Yordania memberikan sambutan dalam acara Nahdlatul Ulama Sufi Gathering di Jakarta Concention Center, Senayan, Rabu (26/2/2014). Acara tersebut dihadiri 1500 Kyai NU dan sejumlah tokoh nasional. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)
Raja Abdullah II dari Yordania memberikan sambutan dalam acara Nahdlatul Ulama Sufi Gathering di Jakarta Concention Center, Senayan, Rabu (26/2/2014). Acara tersebut dihadiri 1500 Kyai NU dan sejumlah tokoh nasional. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA) (TRIBUN/DANY PERMANA)

Keputusan sepihak

Analis Amer Sabaileh menilai pengumuman Pangeran Hamzah menyalakan kembali keretakan kerajaan yang diyakini banyak orang di Yordania telah diselesaikan dengan permintaan maaf sang pangeran.

Sabaileh mencatat bahwa Pangeran Hamzah telah membuat keputusan secara sepihak dan mengumumkannya di akun Twitter pribadinya, daripada berkonsultasi dengan keluarga kerajaan.

Dia mencoba untuk kembali terlibat dengan narasi lama," kata Sabaileh tentang Hamzah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved