15 Orang Tewas dan 50 Orang Terluka dalam Demo Anti-PBB di Kongo
Setidaknya 15 orang tewas dan 50 orang terluka dalam aksi demonstrasi anti PBB di Kongo.
TRIBUNNEWS.COM - Setidaknya 15 orang tewas dan 50 orang terluka selama dua hari demonstrasi anti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kongo timur, kata juru bicara pemerintah Patrick Muyaya, Selasa (26/7/2022).
PBB mengatakan satu penjaga perdamaian dari Maroko dan dua polisi internasional dari India yang bertugas dengan pasukan penjaga perdamaian PBB terbunuh dalam insiden tersebut.
Sorang polisi dari Mesir terluka di pangkalan PBB di Butembo di Provinsi Kivu Utara ketika demonstran yang menggunakan kekerasan merampas senjata dari polisi Kongo dan menembaki personel PBB.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk serangan Butembo dan kekerasan yang menargetkan beberapa pangkalan PBB di Kivu Utara sejak Senin, kata wakil juru bicara PBB Farhan Haq.
Guterres menggarisbawahi bahwa setiap serangan yang diarahkan pada pasukan penjaga perdamaian PBB mungkin merupakan kejahatan perang.
Dia meminta pihak berwenang Kongo untuk segera menyelidiki pembunuhan tersebut dan membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan, kata juru bicara itu.
Baca juga: Rusia Cari Dukungan ke Afrika, Menlu Sergey Lavrov Temui Presiden Kongo
Ratusan penyerang menyerang pangkalan pasukan PBB di Goma dan bagian lain dari Kivu Utara, jelas Haq, Selasa (26/7/2022).
Serangan itu dipicu oleh pernyataan bernada permusuhan dan ancaman yang dibuat oleh individu dan kelompok terhadap PBB, terutama di media sosial.
"Massa melemparkan batu dan bom bensin, membobol pangkalan, menjarah dan merusak, dan membakar fasilitas," kata Haq sebagaimana dikutip AP News.
"Kami mencoba untuk menenangkan keadaan termasuk dengan mengirimkan pasukan reaksi cepat tetapi tidak ada bukti bahwa kekerasan telah berakhir."
Selain itu, lanjut Haq, setidaknya empat serangan menargetkan kediaman staf misi, yang kini telah dipindahkan ke kamp-kamp PBB.
Massa juga mencoba memasuki kompleks Program Pembangunan PBB pada hari Selasa tetapi ditentang oleh penjaga keamanan, katanya.
Demonstran membakar dan memaksa masuk ke kantor misi PBB di Goma pada hari Senin.
Mereka menuduh pasukan penjaga perdamaian gagal melindungi warga sipil di tengah meningkatnya kekerasan di negara itu.
Mereka juga menyerukan pasukan PBB, yang hadir di Kongo selama bertahun-tahun, untuk pergi.
Baca juga: 9 Kasus Kematian Akibat Monkeypox Tercatat di Kongo pada 2022
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bendera-kongo-1.jpg)