Jumat, 10 April 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

NATO Gagal Sepakati Pasokan Tank Leopard Jerman ke Ukraina karena Pro dan Kontra

NATO gagal sepakati pengiriman Tank Leopard dari Jerman ke Ukraina dalam pertemuan Ramstein yang digelar di Jerman, Jumat (20/1/2023).

Southfront.org
Tank Tempur Utama (MBT) Leopard milik militer Jerman yang dimodernisasi guna menghadapi kemajuan teknologi tank Rusia seperti tank T-14 Armata. - NATO gagal menyepakati pengiriman tank Leopard 2 dari Jerman ke Ukraina karena Jerman masih pertimbangkan pro dan kontra. 

TRIBUNNEWS.COM - Aliansi NATO gagal menyepakati pasokan tank Leopard 2 dari Jerman untuk dikirim ke Ukraina dalam Pertemuan Ramstein.

Kegagalan ini terjadi di tengah ancaman Rusia yang akan meningkatkan serangan jika NATO memasok senjata berat ke Ukraina.

Lebih dari 50 negara aliansi NATO bertemu di Pangkalan Udara Ramstein Amerika di Jerman pada Jumat (20/1/2023).

Pertemuan tersebut kembali menekan Jerman untuk memberikan lampu hijau untuk pengiriman tank Leopard 2 buatan Jerman ke Ukraina.

Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, membantah Jerman secara sepihak memblokir pengiriman tank Leopard 2 ke Ukraina.

Baca juga: Finlandia Siapkan Bantuan Militer 400 Juta Euro untuk Ukraina

Namun, ia mengatakan Jerman akan memulai inventarisasi kendaraannya, jika ada kesepakatan di masa depan.

Mereka juga akan mulai melatih pasukan Ukraina tentang cara menggunakan tank Leopard 2, seperti diberitakan Al Jazeera.

Jerman Ragu Kirim Tank Leopard 2

Pernyataan Boris Pistorius menggambarkan keraguan Jerman untuk mengirim tank Leopard 2 ke Ukraina.

Ia belum memberikan keputusan karena masih mempertimbangkan banyak hal.

“Ada alasan bagus untuk pengiriman dan ada alasan bagus untuk menolak," katanya.

Boris mengaku harus melihat situasi perang Rusia dan Ukraina selama ini.

Ia ingin mempertimbangkan semua pro dan kontra dengan sangat hati-hati.

Tekanan telah meningkat terhadap Jerman untuk menyediakan tank Leopard 2 yang dianggap Ukraina sebagai kunci dalam perang melawan Rusia.

"Kesan ada koalisi yang bersatu dan bahwa Jerman menghalangi adalah salah," kata Boris Pistorius, dikutip dari New York Post.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved