Rabu, 13 Mei 2026

Kesuburan pria menurun dari waktu ke waktu, apa penyebabnya?

Infertilitas pria berkontribusi sekitar setengah dari semua kasus infertilitas dan mempengaruhi 7% populasi pria. Namun, infertilitas pria jauh

Tayang:

Jumlah sperma, jelas Levine, memiliki hubungan yang erat dengan peluang kesuburan. Sementara jumlah sperma yang lebih tinggi tidak selalu berarti kemungkinan pembuahan yang lebih tinggi, di bawah ambang batas 40 juta/mililiter kemungkinan pembuahan turun dengan cepat.

Pada 2022, Levine dan kolaboratornya menerbitkan ulasan tentang tren global dalam jumlah sperma. Ini menunjukkan bahwa jumlah sperma turun rata-rata 1,2% per tahun, antara 1973 hingga 2018, dari 104 menjadi 49 juta/mililiter.

Sejak tahun 2000, laju penurunan ini meningkat menjadi lebih dari 2,6% per tahun.

Levine berpendapat percepatan ini bisa disebabkan oleh perubahan epigenetik. Artinya, perubahan cara kerja gen yang disebabkan oleh faktor lingkungan atau gaya hidup.

Tinjauan lainnya juga menunjukkan epigenetik dapat berperan dalam perubahan sperma dan infertilitas pria.

"Ada tanda-tanda bahwa itu bisa terakumulasi lintas generasi," katanya.

Gagasan bahwa perubahan epigenetik dapat diwariskan lintas generasi bukannya tanpa kontroversi, tetapi ada bukti yang menunjukkan bahwa hal itu mungkin terjadi.

"Ini [penurunan jumlah sperma] adalah penanda buruknya kesehatan pria, bahkan mungkin umat manusia," kata Levine. "Kita menghadapi krisis kesehatan masyarakat - dan kita tidak tahu apakah itu dapat dibatalkan."

Penelitian menunjukkan infertilitas pria dapat memprediksi masalah kesehatan di masa depan, meskipun kaitan pastinya belum sepenuhnya dipahami.

Salah satu kemungkinannya adalah faktor gaya hidup tertentu dapat menyebabkan infertilitas dan masalah kesehatan lainnya.

"Meskipun pengalaman menginginkan anak dan tidak bisa hamil sangat menghancurkan, ini adalah masalah yang jauh lebih besar," kata Da Silva.

Perubahan gaya hidup individu mungkin tidak cukup untuk menghentikan penurunan kualitas sperma. Semakin banyak bukti yang menunjukkan ancaman lingkungan yang lebih luas: polutan beracun.

Dunia yang beracun

Rebecca Blanchard, rekan pengajar kedokteran hewan dan peneliti di University of Nottingham, Inggris, sedang menyelidiki pengaruh bahan kimia lingkungan yang ditemukan di dalam rumah terhadap kesehatan reproduksi pria.

Dia menggunakan anjing sebagai ‘prajurit penjaga’ – semacam sistem alarm peringatan dini untuk kesehatan manusia.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved