India Tetap Gelar Pertemuan G20 di Kashmir Meski Menuai Kritik
Pertemuan pariwisata G20 telah dimulai di Kashmir dengan penjagaan ketat. New Delhi ingin menunjukkan citra normalitas di wilayah…
Pekan lalu, pelapor khusus organisasi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk isu-isu minoritas, Fernand de Varennes, mengatakan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk menciptakan "kenormalan semu", sementara "pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang masif" terus berlanjut di wilayah tersebut.
Misi India untuk PBB di Jenewa pun membantah pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa pernyataan itu "tidak mendasar" serta mengandung "tuduhan yang tidak beralasan."
Pakistan dan Cina juga mengecam keputusan New Delhi yang tetap menggelar pertemuan di Srinagar.
Islamabad menyebutnya sebagai "keputusan yang tidak bertanggung jawab", sementara Cina menyarankan agar pihak-pihak terkait menghindari "keputusan sepihak" yang dapat "memperumit" situasi.
New Delhi menepis keberatan dan kritikan tersebut dengan mengatakan bahwa konferensi tingkat internasional semacam itu "wajar” untuk digelar di seluruh wilayah India, terutama Kashmir, karena wilayah itu adalah bagian yang "tidak terpisahkan dan tidak bisa dipisahkan" dari negara tersebut.
Sejak tahun 1947, wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Islam itu telah menjadi titik perselisihan antara India dan Pakistan. Cina juga mengklaim sebagian kecil dari wilayah itu.
India saat ini secara ‘de facto' menguasai sekitar 45% dari wilayah Kashmir dan mayoritas penduduknya, sementara Pakistan menguasai sekitar 35%. Sisanya, 20% berada di bawah kendali Cina.
Mempercantik Srinagar demi pertemuan G20
Percepatan pembangunan infrastruktur di kota Srinagar menjelang pertemuan G20 kali ini juga memicu beragam reaksi.
Beberapa mengkritik pemerintah India karena tidak mempertimbangkan kekayaan warisan budaya dan kerentanan ekologis kota Srinagar dalam rencana pembangunannya.
Seorang arsitek, yang tidak ingin disebutkan namanya, berpendapat bahwa pemerintah setempat tidak memberikan perhatian yang cukup untuk melindungi identitas arsitektur kota tersebut, karena terkesan tergesa-gesa dalam merombak Srinagar.
Tetapi Kepala Eksekutif Proyek Srinagar Smart City, Athar Aamir Khan, menepis kritikan tersebut, dan mengatakan bahwa konservasi arsitektur tradisional merupakan prioritas utama.
Dia juga menekankan betapa pentingnya pertemuan G20 ini dalam meningkatkan prospek ekonomi dan lapangan kerja di kota itu.
"G20 telah memberikan momentum, di mana pekerjaan yang biasanya memakan waktu satu tahun dapat diselesaikan dalam waktu tiga bulan. Perubahan wajah kota ini terinspirasi dari arsitektur tradisional, sementara desain dan prinsip-prinsip perkotaan modern juga tetap dipertimbangkan," jelas Khan.
Kepresidenan G20 India di tengah masa-masa sulit
India mengambil alih kursi kepresidenan G20, yakni kelompok blok kerjasama ekonomi yang terdiri dari 19 negara dan Uni Eropa, pada bulan Desember tahun lalu.
G20 muncul sebagai forum diskusi antarpemerintah utama di dunia, yang terdiri dari negara-negara maju dan berkembang. Forum ini mencakup sekitar dua pertiga dari populasi dunia dan 80% dari perdagangan dunia.