Sabtu, 30 Agustus 2025

Kasus rabies di NTT berpotensi jadi 'wabah yang besar' hingga Timor Leste, kata ahli

Seorang ahli memprediksi, jika pemerintah setempat tidak melakukan langkah yang tepat untuk mengatasi kasus rabies, virus penyebab…

Pemerintah Nusa Tenggara Timur (NTT) akan melakukan vaksinasi darurat rabies terhadap seluruh hewan penular rabies di Kabupaten Timor Tengah Selatan, setelah satu orang meninggal dunia dan puluhan lainnya diduga terinfeksi virus rabies. Seorang ahli memperingatkan jika penanganannya tidak tepat virus akan menyebar ke wilayah lain dan menjadi wabah yang besar.

Jumlah warga yang diduga terinfeksi virus rabies meningkat di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Pulau Timor, NTT.

Pada Rabu (31/05) sore, jumlah kasus yang dilaporkan digigit anjing menjadi 72 orang, meningkat dari 46 orang sehari sebelumnya, dengan satu orang meninggal dunia.

Di antara kasus-kasus tersebut, sebanyak 10 orang mengalami “gejala rabies”, yang beberapa di antaranya demam, nyeri tenggorokan, dan cemas.

Kasus gigitan anjing itu dilaporkan terjadi di 21 desa di sembilan kecamatan, yaitu Kecamatan Kuatnana , Kolbano, Kualin, Nunkolo, Amanuban Timur, Amanuban Tengah, Amanatun Selatan, Fautmolo dan Kie.

Dokter hewan Maria Geong, yang memegang gelar doktor di bidang mikrobiologi-epidemiologi, memprediksi virus penyebab penyakit anjing gila itu akan menyebar ke wilayah lainnya di seluruh daratan Pulau Timor, NTT, jika pemerintah setempat tidak melakukan langkah yang tepat untuk mengatasi kasus rabies.

Bukan tidak mungkin juga virus itu merambah ke negara tetangga, Timor Leste.

Satu-satunya pilihan, menurut dia, adalah dengan melakukan blanket immunization karena sebelumnya “rabies belum pernah dilaporkan di Pulau Timor”.

Blanket immunization adalah vaksinasi menyeluruh terhadap semua hewan yang rentan di suatu wilayah atau bahkan negara.

“Masuknya satu penyakit ke dalam satu populasi yang tidak mengenal antibodi dari penyakit ini, maka akan terjadi outbreak [wabah] yang besar,” kata Maria Geong, yang juga pernah menjabat sebagai Kepala UPTD Kesehatan Hewan NTT, kepada wartawan Eliazar Robert yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Rabu (31/05).

Awalnya pemerintah setempat mengumumkan 20 orang diduga terinfeksi rabies setelah digigit anjing. Namun dalam waktu singkat jumlah kasus yang dilaporkan bertambah menjadi 72 orang pada Rabu (31/05).

Angka itu diduga akan bertambah karena “kemungkinan ada orang-orang yang sudah digigit tapi tidak melaporkan”.

Sebelumnya, pada 29 Mei, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Laiskodat, memerintahkan wali kota Kupang dan bupati di seluruh daratan Pulau Timor untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit rabies.

Dia memerintahkan pengawasan dan pembatasan lalu lintas hewan penular rabies (HPR), terutama anjing antar kota/kabupaten sedaratan Timor.

Khusus Kabupaten TTS, Gubernur Viktor Laiskodat memerintahkan penertiban dengan mengandangkan dan mengikat semua anjing, baik anjing berpemilik maupun anjing liar untuk memimalisasi kasus gigitan HPR.

Viktor, melalui surat resmi, juga memerintahkan pemerintah kabupaten TTS segera mengupayakan dana pembelian vaksin anti rabies (VAR) untuk HPR dan melakukan vaksinasi darurat rabies pada seluruh HPR di daerah kasus.

Pemkab TTS menyatakan kejadian luar biasa (KLB) rabies untuk kesehatan dan wabah rabies untuk perternakan di wilayahnya sejak Selasa (30/05) malam.

Per 31 Mei, 22 orang —dari total 68 orang yang menjalani rawat jalan—sudah mendapatkan vaksin anti-rabies dosis pertama.

Dinas Kesehatan Provinsi NTT memberikan 100 vaksin untuk kasus ini.

Selain itu, pemerintah setempat juga akan melakukan pemusnahan selektif terhadap hewan liar.

Kasus rabies di Pulau Timor, NTT, pertama kali ditemukan di Desa Fenun, Kecamatan Amanatun Selatan, tempat salah satu korban meninggal dunia.

Sejauh ini, Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan masih melakukan “observasi” untuk mengetahui asal virus rabies itu.

Kasus rabies di Kabupaten TTS terungkap setelah Balai Besar Veteriner Denpasar mengeluarkan laporan hasil uji laboratorium dari sampel organ anjing yang mengigit seorang warga pada 28 Mei.

Anjing itu terkonfirmasi positif rabies.

Takut diserang anjing, warga bawa senjata tajam

Sebelum rabies menyebar di Desa Fenun, warga mengaku “tidak tahu sama sekali” tentang gejala yang ditimbulkan virus itu ketika menginfeksi manusia.

Kini setelah satu warganya meninggal dan puluhan lainnya diduga terinfeksi rabies warga merasa takut dan khawatir.

"Kalau kita lihat masyarakat sedikit panik dengan situasi seperti ini, artinya kalau keluar jalan juga selalu hati-hati," kata Kepala Desa Fenun, Antonius Tefa, yang dihubungi wartawan Eliazar Robert, Rabu (31/5).

Warga beraktivitas seperti biasa, kata Antonius, tapi pada malam hari mereka selalu membawa senjata tajam, seperti parang ketika keluar rumah untuk berjaga-jaga jika mendadak diserang anjing.

Ketika bertemu anjing liar, warga langsung mengejar dan membunuh anjing itu.

"Dalam beberapa hari ini sudah ada sekitar empat atau lima ekor anjing liar yang dibunuh masyarakat," ujar Antonius.

Setelah rabies mewabah di Desa Fenun, semua anjing peliharaan warga langsung diikat dan dikandangankan. Hewan liar yang ditemukan berkeliaran di dalam desa pun akan langsung dimusnahkan.

Tidak boleh ada hewan yang dibawa dari luar atau masuk ke Desa Fenun karena statusnya kini diisolasi.

Meskipun demikian, hingga Rabu (31/05) siang, Antonius mengatakan belum ada vaksinasi untuk anjing.

Hanya warga yang terkena gigitan yang sudah mendapatkan perawatan dari petugas puskesmas.

Kasus rabies yang saat ini mewabahdi Kabupaten TTS, pertama kali diketahui berasal dari Desa Fenun setelah seorang warganya berinisial AB (45 tahun) meninggal dunia.

Tumit kaki sebelah kanan AB digigit anjing pada April lalu dan baru sakit sebulan kemudian, menurut penjelasan Antonius.

Kecurigaan terhadap virus rabies baru disadari warga setelah beberapa ekor anjing liar, Antonius menyebut jumlahnya lebih dari lima, datang ke Desa Fenun pada awal Mei.

Anjing-anjing itu secara sembarang menyerang warga dan anjing-anjing lainnya. Tak lama, anjing-anjing itu mati dan mulutnya mengeluarkan busa.

Bagaimana penyebaran virus Rabies di NTT?

Dokter hewan Maria Geong mempertanyakan surveilans yang dilakukan pemerintah terhadap penyakit ini dan menyebut KLB rabies di TTS adalah bentuk “kecolongan”.

Sebab, dilihat dari rentang waktunya, dia menduga kasus rabies “pertama” di Pulau Timor ini sudah ada sejak satu sampai dua bulan lalu.

“Masa inkubasi anjing digigit kan cukup panjang. Jangan dikira hasil [laporan] kemarin tanggal 29 Mei atau ketika orang mati baru ada. Itu sudah ada rabies,” ujarnya.

Situs Kementerian Kesehatan menyebut masa inkubasi rabies bisa berlangsung selama 2-3 bulan.

Dalam beberapa kasus, masa inkubasi bisa juga terjadi selama satu minggu setelah penularan.

Masa inkubasi adalah waktu antara penularan virus sampai gejala wal muncul. Biasanya seseorang tidak merasakan keluhan apapun pada masa ini.

Menurut Maria, jika pihak berwenang menjalani surveilans—pengamatan kesehatan pada populasi untuk mengidentifikasi ancaman kesehatan, “penyakit ini bisa dideteksi dengan cepat”.

Apalagi di Pulau Flores, yang berseberangan dengan Pulau Timor, Kabupaten Sikka juga telah mengumumkan KLB rabies pada pekan lalu, dengan satu kasus kematian bocah berusia empat tahun pada 8 Mei 2023.

Sejak Januari hingga Mei 2023 Sikka mencatat 518 kasus gigitan anjing. Dari 17 spesimen anjing yang diperiksa, 10 di antaranya positif rabies, dikutip dari Kompas.com.

Dari status KLB di Sikka, dan dua kasus kematian lainnya di Kabupaten Ende dan Manggarai Timur pada bulan ini, dr Maria menilai seharusnya Pulau Flores menyandang status KLB agar virus rabies tidak menyebar ke luar pulau.

Namun, faktanya saat ini, virus rabies sudah mencapai Pulau Timor di seberangnya.

Dugaannya, virus itu sampai di Pulau Timor akibat tingkat vaksinasi HPR yang masih rendah.

Bahkan dr Maria menyebut vaksinasi tidak sampai 30% dari yang seharusnya melampaui 70% untuk mendapatkan herd immunity.

Ditambah lagi pelayaran-pelayaran tradisional yang dilakukan warga, yang tidak melalui proses karantina.

Anjing banyak dibawa dalam pelayaran karena hewan itu dianggap bisa memberikan sinyal bahaya, misalnya seperti datangnya badai.

“Tapi orang anggap remeh, saya lihat teman-teman di Dinas Peternakan dia terlalu menyepelekan. Surveilansnya mugkin jalan, tapi tidak membaca hasilnya,” kata Maria.

BBC News Indonesia berupaya mengonfirmasi tingkat vaksinasi HPR kepada dinas terkait Namun, sampai berita ini diturunkan belum ada jawaban.

Sementara itu, Kementerian Pertanian melempar isu ini kepada pemerintah daerah.

"Soal itu yang lebih paham pemerintah setempat," kata Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah, dalam pesan singkat kepada BBC News Indonesia.

Wartawan Eliazar Robert di Kupang, NTT, berkontribusi untuk artikel ini.

Sumber: BBC Indonesia
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan